Aher Gunakan APBD Untuk Buat Masjid 1 Triliun di Saat Rakyatnya Kesusahan

Aher Gunakan APBD Untuk Buat Masjid 1 Triliun di Saat Rakyatnya Kesusahan
Aher Gunakan APBD Untuk Buat Masjid 1 Triliun di Saat Rakyatnya Kesusahan
Aher Gunakan APBD Untuk Buat Masjid 1 Triliun di Saat Rakyatnya Kesusahan

Kabar Trending – Jika orang PKS sering bilang bahwa Jokowi sering pencitraan, saya malah akan mengatakan sebaliknya. Aher lah yang pantas dinobatkan sebagai “Gubernur Pencitraan no 1 se-Indonesia”. Bagaimana tidak, jika anda berkunjung ke Jawa Barat terutama Bandung, anda akan menemui banyak sekali wajah Aher yang terpampang di jalan kota hingga kampung, mulai dari baliho hingga billboard. Foto Aher bahkan mengalahkan Jokowi dan foto iklan yang menggunakan jasa artis Ibukota. Hanya secuil fotonya bersama Wakil Gubernur, sisanya foto dia sendiri dengan berbagai pose. Dulu ketika di Libya, orang sana sering berseloroh, penduduk Libya ada 7 juta, 6 juta masyarakatnya, 1 jutanya foto Qaddafi. Hal itu karena saking banyaknya foto Qaddafi. Sekarang saya menemukan hal itu lagi di Bandung. Jawa Barat penduduknya 46 juta, 2 jutanya foto Aher. Tapi biarlah, sebab tahun depan fotonya sudah harus diturunkan.

Bukti lain Aher banyak melakukan pencitraan, salah satunya pembangunan masjid yang menelan biaya sebesar 1T. Membangun tempat ibadah itu baik. Tetapi jika ia menggunakan biaya tersebut dari APBD sedangkan daerah yang dipimpinnya banyak yang miskin dan tingkat kesejahteraannya sangat rendah layak kah disebut pemimpin yang baik? TIDAK!!!

Pembangunan masjid senilai 1 T itu digagas oleh Ahmad Heryawan (Aher) yang tahun depan sudah harus lengser dan kini sedang dimulai proses pengerjaannya. Kawasan masjid ini dibuat di tepi danau di daerah Bandung dengan luas 20-25 ha, pelataran masjidnya 2,5 ha, sedang luas masjidnya 1 ha. Disekelilingnya akan dibangun hotel, restoran, dan museum. Tak berhenti disitu Gubernur dari PKS ini juga akan membangun 20 masjid di 20 titik, salah satunya di Garut, wilayah Jawa Barat yang mempunyai angka kemiskinan yang cukup tinggi.

Sekilas pembangunan ini tampak prestisius lalu orang-orang yang senang dengan simbol agama akan mengatakan, Gubernur ini memperjuangkan kepentingan umat, karena yang dibangun Masjid, bukan infrastruktur jalan atau listrik 35 ribu MW sebagaimana yang dilakukan Jokowi. Padahal membangun jalan dan listrik tentu lebih bermanfaat daripada sekedar tempat ibadah. Toh,Bandung sudah punya Masjid Raya yang sangat luas dan indah, lalu untuk apa dibuat Masjid Raya lagi, kalau tidak untuk pencitraan? Atau proyek yang sengaja dibuat agar nanti sang istri bisa ikut andil untuk pemilihan Gubernur berikutnya.

Saya pernah menulis pernyataan bahwa membangun masjid mewah di tengah masyarakat miskin itu akan sia-sia saja, kalau bisa dibilang Tuhan tidak akan suka. Tapi toh pernyataan saya itu ditentang habis-habisan oleh orang-orang PKS. Saya dianggap kurang beriman lah, kurang beragama lah dan sebagainya. Memang susah berbicara pada kelompok yang terlalu fanatik agama, bagi mereka simbol paling utama. Masjid harus dibuat megah, masa bodoh masyarakat disekelilingnya miskin dan papa, anak-anak putus sekolah, jalanan berlobang, jelek, dan becek. Dan asal tau saja, Jawa Barat itu paling tingi angka bencana alamnya. Lalu jika uang untuk pembangunan masjid diambil dari APBD senilai 1 Triliun, berapa dana yang tersisa untuk perbaikan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakatnya? berapa pula sisa dana yang dikucurkan untuk korban banjir dan longsor?

Berdasarkan catatan BPS (Badan Pusat Statistik) yang dirilis pada 4/1/2016, dari 34 Propinsi yang diamati, ada 10 kota dengan penduduk miskin terbanyak. Urutan pertama diduduki oleh kota di Propinsi Jawa Barat sebanyak 2,7 juta orang. Di beberapa media Wakil Gubernur Jabar mengklaim bahwa angka kemiskinan turun menjadi 8,5% dari sebelumnya 9,57 persen. Jika penduduk Jawa Barat saat ini sebanyak 46 juta, maka jumlah kemiskinan masih 3,9 juta. Jumlah yang masih sangat besar.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah seringnya banjir besar melanda daerah Jawa Barat. Daerah Jabar yang menjadi langganan banjir adalah: Kabupaten Garut, Kota Bandung, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi. Wilayah Dayeuh Kolot di Kabupaten Bandung bahkan 94% wilayahnya terkena banjir tiap tahun! Tak tanggung-tanggung hingga mencapai 2 meter! Itu artinya hingga sampai atap rumah! Tapi toh tidak ada perbaikan, Aher tenang-tenang saja. Dan sekarang uang yang harusnya bisa dibuat waduk atau apalah agar tidak banjir lagi, malah dibuat bangun masjid! Jawa Barat masjidnya bejibun, Pak! Tidak usah ditambah lagi.

Tak hanya itu, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) mencatat bencana longsor juga paling sering terjadi di Jawa Barat, terutama daerah Kuningan, Garut, Sukabumi,dan Bogor. Dalam setahun pada 2016 longsor mencapai 439 kali. Data lain yaitu selama 2016 terjadi 1074 bencana di Jabar meliputi puting beliung, banjir, kebakaran dan gempa bumi.

Dari data di atas menunjukkan bahwa Jawa Barat lebih perlu membangun jembatan yang terputus akibat longsor, membuat jalan yang baru, memperbaiki rumah korban bencana, mengeruk sungai, membuat waduk, dan sebagainya, agar efek bencana alam lebih mudah diminimalisisr, daripada hanya sekedar membuat tempat ibadah saja.

Hal buruk dari Jabar yang paling menjadi sorotan yaitu tingginya angka intoleransi dan radikalisme. Propinsi yang dipimpin oleh Aher ini menempati urutan wahid. Jadi menurut saya, pembangunan masjid tanpa disertai kesadaran masyarakat terhadap toleransi beragama hanya akan menjadi bumerang dan buah simalakama. Bisa jadi pembangunan masjid prestesius ini malah akan menambah angka intoleransi di propinsi ini. Bukankah akan lebih baik, jika dana dialokasikan untuk penanggulangan radikalisme yang kerap terjadi di Jawa Barat?

Tapi sepertinya Aher tutup mata dan telinga. Pembangunan masjid tetap dilakukan. Kita liat saja, apa tahun depan Bandung dan wilayah Jabar lain masih langganan banjir setinggi 2 meter dan angka intoleransinya masih menduduki peringkat tertinggi.