Ahok, Djarot, Anies, Sandi. Empat Manusia Super di Pilkada

Ahok, Djarot, Anies, Sandi. Empat Manusia Super di Pilkada
Ahok, Djarot, Anies, Sandi. Empat Manusia Super di Pilkada
Ahok, Djarot, Anies, Sandi. Empat Manusia Super di Pilkada

Kabar Trending – Seperti biasanya, Cang Kosim bersama warga lainnya diskusi tentang berbagai masalah yang ada di RW 09, Kampung Apus. Malam itu diskusi sangat sengit. Selain mengkritisi program Cang Kosim yang akan dibawanya dalam debat terbuka di hadapan warga RW 09, juga mendiskusikan para calon gubernur yang akan bertarung dalam pilkada di putaran kedua.

“Cang, udah denger belum soal salah satu calon wagub akan diperiksa karena kasus penggelapan tanah?” tanya Madi sambil membuka situs yang memuat berita tersebut di hand phonenya.

“Baru denger gua tuh. Siapa sih, Di?” tanya Cang Kosim penasaran.

“Itu, cawagubnya dari kubu baju putih,” jawab Madi sambil memperlihatkan berita tersebut.

“Ngaco lu, Di. Dia kan orang kaya. Mana mungkin melakukan itu,” bela Mamat yang kebetulan malam itu ikut hadir di posko Cang Kosim.

“Apa yang gak mungkin di dunia ini, Pak Mamat. Pejabat negara yang udah kaya dan semua dapat fasilitas negara aja masih bisa korupsi,” ujar Doni, menyanggah pernyataan Mamat.

“Kita kan gak tahu nih masalahnya seperti apa. Tapi karena dia seorang figur publik yang sekarang jadi cawagub, masalahnya bisa jadi politis ini,” tutur Cang Kosim sambil menyerahkan kembali hand phone milik Madi.

“Kalau semuanya belum jelas, jangan suudzon dulu. Kecuali kalau udah terbukti secara hukum, mungkin baru kita tahu kebenarannya,” tutur Mamat.

“Iya sih. Kita tunggu aja deh akhirnya gimana,” ujar Madi sambil membereskan gelas yang sudah kosong.

“Kita sebagai warga sebenernya harus bangga dengan pertarungan empat orang super di pilkada kali ini,” ungkap Cang Kosim.

“Super bagaimana maksudnya, Cang?” tanya Mamat.

“Ada empat orang super yang siap ngurusin kebutuhan rakyat. Ada yang super kaya, super berani, super in-konsisten dan super sabar,” jawab Cang Kosim.

“Saya makin gak ngerti nih maksud Cang Kosim,” ujar Doni sambil menyeruput kopi yang tinggal ampasnya saja.

“Begini. Kalau kita lihat, yang bertarung di pilkada pamungkas ini bener-bener orang pilihan banget. Gua jelasin satu-satu deh. Tapi ini berdasarkan yang gua amati dan gua baca di media-media ya. Kalau lu semua punya pandangan lain, silahkan aja,” tutur Cang Kosim.

“Ya pasti, Cang. Kita kan punya otak masing-masing…heheheh,” ujar Madi.

“Kita mulai dari yang super kaya. Siapa yang gak tahu cawagub dari baju putih itu tajir banget. Kekayaannya gua rasa kalau buat tujuh turunan gak habis. Hitungannya triliunan. Pokoknya nolnya banyak deh. Perusahaannya di mana-mana. Sampai sekarang aja nih, yang gua baca dari 64,7 miliar rupiah dana kampaye yang dikeluarkan, 96 persennya dana pribadi dia. Itung sendiri berapa tuh,” ungkap Cang Kosim.

“Ya wajarlah. Kan orang kaya. Duit segitu mah kecil buat dia,” tutur Mamat menimpali.

“Iye sih, Mat. Tapi kok, gua rada-rada gimana… gitu. Kalau gua baca tadi tuh, katika lawannya dari kotak-kotak menanggapi soal pemanggilannya, kayanya ngerendahin orang banget. Ini urusan dua orang super kaya. Katanya begitu. Kita bisa nilai sendiri gimana orangnya,” ujar Cang Kosim.

“Tapi kan wajar dia begitu. Memang faktanya super kaya,” kata Mamat.

“Iya. Gak ada yang bisa bantah kalau dia memang kaya,” ujar Cang Kosim.

“Lanjut, Cang,” kata Doni penasaran ingin tahu yang lainnya.

“Yang kedua, super berani. Siapa lagi kalau bukan cagubnya dari kubu kotak-kotak. Ketika ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama, dia langsung bilang, siap bertemu di pengadilan. Biar pengadilan yang membuktikan. Dia gak pake acara pra-peradilan segala. Coba lu liat yang lain, ketika polisi atau KPK menetapkan sebagai tersangka, langsung ajukan pra-peradilan. Tapi itu memang hak masing-masing. Tapi gua salut keberaniannya itu. Bagaimana seandainya terbukti, bisa dibui,” papar Cang Kosim.

“Itu kan udah resiko dia ngomong begitu,” kata Doni.

“Iya, Don. Makanya dia tahu itu udah resikonya. Sampai ada yang demo berjilid-jilid dan teriakin mau dibunuh segala. Tapi dia tetap maju ke pengadilan. Gak mau ngeles,” tutur Cang Kosim.

“Dalam kampanye juga dia berani untuk gak dipilih lagi sama warga. Ketika ada warga yang mengadu soal pemukiman di bantaran kali, dia berani bilang kalau harus direlokasi. Bukan karena supaya dapet suara rakyat dia bilang gak akan digusur. Dia berani bilang begitu. Padahal, itu kan bisa bikin warga gak simpati,” papar Cang Kosim lebih lanjut.

“Saya juga heran sama nih orang. Mestinya kampanye baik-baikin warga, tapi malah bilang mau digusur. Apa gak butuh suara warga dia?” ujar Madi.

“Itulah dia. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Terserah warga mau nilainya gimana,” kata Cang Kosim.

“Nah…. Kalau yang super in-konsisten itu siapa, Cang?” tanya Mamat gak sabar.

“Maaf ya, menurut gua cagub dari baju putih itu super in-konsisten. Hari ini ngomong ada program rumah DP 0 persen. Diralat lagi, bukan rumah tapi rusun. Berubah lagi pernyataannya, katanya yang bisa DP 0 persen itu buat yang ppenghasilan Rp 7 juta. Warga jadi binggung nih mana yang bener,” ungkap Cang Kosim.

“Iya, Cang. Tadinya saya udah seneng nih bisa beli rumah tanpa DP. Tapi sekarang, batal mimpi punya rumah,” ujar Doni sambil melahap gorengan yang ada di hadapannya.

“Yang terbaru, dia bilang semua ormas akan dapat dana yang diambil dari APBD. Seneng banget dong ormas. Bahkan, anak gua tuh, si Anwar udah siap-siap bikin ormas sama temen-temennya. Katanya biar dapet dana juga. Tapi belakangan ormas gigit jari, karena menurutnya ormas yang dapat dana itu ada kriterianya,” tutur Cang Kosim.

“Kalau gitu mah udah ketahuan ormas mana yang bakalan dapat. Yang lain mah gigit jari aja deh,” ujar Madi dengan nada agak sewot.

“Itu lu yang ngomong, Di. Bukan gua ya. Hehehe….” kata Cang Kosim dengan nada canda.

“Yang terakhir gimana, Cang?” tanya Madi.

“Ini yang terakhir orang Jawa. Super sabar. Lu semua tahu sendiri waktu dia hadir ke acara pengajian. Padahal dia dapat undangan resmi dari tuan rumah. Waktu masuk ke masjid malah diteriakin untuk diusir. Diterikin kafir. Pulangnya dilempar botol air mineral mobilnya. Tapi dia tetep senyum, tetep sabar,” ungkap Cang Kosim.

“Waktu kampanye aja sering dihadang. Tapi dia gak sewot. Malah yang hadang dia diajak dialog,” tambah Doni.

“Tapi ini sabarnya orang Jawa. Hati-hati kalau dia marah. Bisa kelar hidup lu,” ujar Mamat.

“Sekarang tergantung kita nih. Mau pilih yang mana. Setiap hari media menampilkan tentang para calon yang mau dipilih. Tentunya warga sudah punya pilihan masing-masing,” ujar Cang Kosim.

“Iya, Cang. Jangan sampe salah pilih. Nyeselnya lima tahun,” tambah Madi.

“Kalau Cang Kosim, mau pilih siapa?” tanya Mamat.

“Mau tahu aja lu, Mat. Rahasia gua dong. Heheheh….” jawab Cang Kosim yang diselingi tawa.