Akhirnya Presiden Jokowi Mengeluarkan Suara Soal Rohingya

Kabar Trending, Berita Trending, Berita Panas Hari Ini, Berita Terbaru Rohingya, Kasus Rohingya, Perang Rohingya, Berita Panas Rohingya, Berita Utama Hari Ini

Dibutuhkan Aksi Nyata Untuk Menyelesaikan Kekerasan di Myanmar

Berita Utama Hari Ini – Presiden Jokowi akhirnya membuka suara terhadap kekerasan yang terjadi di Myanmar. Dirinya menyatakan sangat menyesali kekerasan yang terjadi di Negara bagian Rakhine di Myanmar tersebut sekaligus menjelaskan aksi nyata Indonesia untuk ikut membantu permasalahan tersebut.

“Saya dan seluruh rakyat Indonesia, kita sangat menyesalkaan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine State Myanmar. Dibutuhkan sebuah aksi nyata dan bukan hanya sekedar kecaman – kecaman,” ungkapnya kala berpidato di Istana Merdeka Jakarta, Minggu.

Presiden ini menyampaikan pernyataan resmi didampingi dengan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wirannto, Menteri Sekretariat Negara Pratikno, dan juga Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir.

“Dan pemerintah sudah berkomitmen untuk terus membantu mengatasi krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil di Indonesia dan juga masyarakat Internasional,” ujar Presiden.

Dirinya juga menjelaskan bahwa sudah menugaskan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi agar bisa datang ke Myanmar dan juga meminta pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan.

“Sore tadi Menlu sudah berangkat ke Myanmar untuk meminta kepada pemerintah Myanmar agar segera menghentikan dan juga mencegah kekerasan dan memberikan perlindungan kepada semua warga termasuk juga warga Muslim di Myanmar serta memberikan akses bantuan kemanusiaan,” tutur sang Presiden lagi.

Menlu Retno Marsudi dijadwalkan akan bertemu dengan Menlu merangkap Koselor Negara Republik Persatuan Myanmar Aung San Suu Kyi yang juga pemimpinb dari Partai Liga Demokrasi Nasional, partai mayoritas parlemen Myanmar, Senin.

Sebelumnya, mereka berdua sudah pernah bertemu di Myanmar tepatnya pada tanggal 6 Desember 2016 dan juga 19 Desember 2016.

Ketiga pertemuan tersebut semuanya membahas tentang solusi untuk mengatasi tragedi kemanusiaan yang menimpa masyarakat etnis Muslim Rohingya yang tinggal di Negara bagian Rakhine.

Pada hari Jumat kemarin, sekelompok gerilyawan Rohingya bersenjatakan pisau dan bom buatan menyerang lebih dari 30 pos polisi di Rakhine Utara sehingga menewaskan setidaknya 12 orang. Puluhan militan dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut dan juga bentrokan lain sesudahnya.

Bentrokan tersebut membuat ribuan warga sipil dari kedua komunitas tersebut terusir. Dilaporkan bahwa beberapa warga sipil juga harus kehilangan nyawa.

Organisasi “Human Rights Watch” mengatakan berdasarkan data satelit menunjukkan kebakaran setidaknya di 10 wilayah. Pemerintah mengatakan bahwa militant tersebut membakar desa – desa kaum minoritas, sementara para gerilyawan mengaitkan kebakaran tersebut dengan pasukan keamanan dan umat Buddha setempat.

Jumlah warga Rohingya yang berusaha untuk menyelamatkan diri ke Banglades terus meningkat. Organisasi Internasional untuk bagian Migrasi, IOM mengatakan setidaknya sudah ada 18.500 orang Rohingya dan kebanyakan perempuan serta anak – anak yang sudah melarikan diri ke Bangladesh. Namun pasukan dari Bangladesh dikabarkan menghalangi para penduduk Rohingya untuk menyebrang ke Bangladesh.

Berita Trending – Aksi terhadap etnis Rohingya di Myanmar sudah meledak di tahun 2012 yang dilakukan sendiri oleh pemerinta Myanmar. Pemerintah Myanmar yang dikuasai militer lalu membuat sensus penduduk mulai dari 30 Maret 2014 dan berlangsung selama 12 hari. Sayangnya, masyarakat etnis muslim Rohingya tidak masuk ke dalam data sensus tersebut. Etnis Rohingya juga tidak masuk ke dalam etnis resmi yang diakui oleh pemerintah di Myanmar.

Penduduk di Myanmar menyeburkan bahwa masyarakat yang beragama Islam berjumlah kurang lebih 2,3 persen dari total keseluruhan penduduk di Myanmar. Namun mereka bukanlah berasal dari Muslim Rohingya karena pemerintah Myanmar tidak mendata etnis Muslim Rohingya tersebut.

Pemerintah Myanmar mengatakan bahwa penduduk Rohingya merupakan imigran gelap dari Bangladesh yang meningkari hak kewarganegaraan mereka, walaupun beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka sudah menetap di Myanmar selama beberapa generasi. Mereka pun tinggal di Negara bagian paling miskin di Myanmar dan juga gerakan serta akses mereka terhadap pekerjaan sangatlah dibatasi.

Ingin tahu keterangan pers Presiden Joko Widodo terkait kekerasan dan krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar ? Simak videonya di bawah ini !