Anies Salahkan MRT Soal Banjir di Jakarta

Anies Salahkan MRT Soal Banjir di Jakarta

Kabar Trending – Banjir yang melanda Jakarta, membuat banyak respons dari para netizen bertebaran. Ada orang-orang macam Zeng Wei Jian yang langsung dengan brutalnya membela Anies Sandi, bahkan harus melanggar banyak fakta yang ada di lapangan alias mencoba membuat fakta baru yang sebenarnya tidak ada.

Ada pula orang-orang nyinyir kelas berat seperti para cebong dan Ahoker yang mengejek dengan membabi buta Anies Sandi. Ada juga yang menyindir dengan satir-satir halus nan mantap seperti “Banjir kali ini lain, teduh dan seiman”, dan sebagainya. Ini sebenarnya adalah respons-respons lumrah.

Tetapi izinkan saya untuk berada pada posisi kedua dan ketiga, yakni nyinyirers dan satire-mania untuk memberikan respons kepada kinerja pemprov DKI Jakarta yang benar-benar hanya terlihat tata kata, ketimbang tata kota.

Sudah sangat jelas, bahwa Jakarta memang langganan banjir, alias ini adalah hal yang biasa saja sebenarnya. Namun mengapa saat Anies Sandi menjabat sebagai gubernur dan wagub, bukan gabener dan wahgabener, komentar pedas semakin menghantam dirinya?

Tentu bukan karena Ahoker saja yang memang pada dasarnya nyinyir, melainkan Anies Sandi sudah menang dengan cara… Asudahlah.. Saya malas bahas ini, terlalu menyakitkan. Anies Sandi yang menang secara titik-titik, juga merupakan Anies-Sandi yang mengumbar janji dan mulutnya yang terlalu banyak mengeluarkan kata-kata retoris yang isinya bualan.

Saya benar-benar tidak suka dengan cara mereka menjual janji, dan saya yakin, para Ahoker nyinyir juga salah satu alasannya adalah dua orang ini mengobral janji surga,.

Ternyata yang didapatkan kolam. Kalau kalian, para pemilih yang dijanjikan surga memilih mereka, jangan kecewa jika kelak di surga, ternyata jatah kalian di kavling dekat kolam. Hahaha. Bagaimana respons dari Sandiaga Uno mengenai banjir? Entah manusia ini bodoh, atau memang terlalu bodoh untuk dinilai kata-katanya. Simak saja…

“Ini kejadian yang sangat eu… anomali cuaca ini yang saya selalu sampaikan bahwa sistem iklim cuaca ini sudah sangat dan itu saya sudah baca di bukunya ‘Climate of Hope’ bahwa climate change ini akan jadi sebuah fenomena yang akan mewarnai kita tahun-tahun ke depan… Kalau penyebabnya ya volume air yang luar biasa banyaknya… Saya bisa prediksi karena ini sebuah siklus cuaca yang betul-betul luar biasa perubahannya. Jadi, kami ke depannya tidak boleh lagi be as usual, kami harus siapkan rencana aksi, prepare for the worst… Instruksinya all out, segera. Kita enggak bisa melawan alam, kualat kalau ngelawan alam. Jangan bilang ini pasti surut, atau banjirnya cuma segini, enggak. Ini adalah fenomena alam. Allah lagi ngirimin hujan. Kalau kita punya sistem yang baik, hujan itu justru harus menjadi berkah bagi kita,” kata Sandi di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (11/12/2017).

Setelah Sandiaga membual-bual mengenai apa yang terlintas di otaknya, Anies pun seolah tidak mau kalah. Sebagai seorang gabener, eh maksud saya gubernur, Anies malah terlihat sama konyolnya. Di antara Anies dan Sandi tidak ada yang lebih konyol atau yang kurang konyol. Karena sejatinya mereka sudah berada di titik konyol terendah, yang pernah saya lihat sejauh ini. Hahaha.

“Di beberapa daerah seperti Gatot Subroto daerah selatan terjadi genangan cukup tinggi, Kuningan, dan lain-lain, itu saya sudah komunikasi cek langsung. Di lapangan masalahnya adalah karena sebagai dari tali air, itu terhambat oleh proyek-proyek yang sedang berjalan baik MRT, LRT, ataupun proyek yang lain… Kita tegaskan bahwa jangan menyepelekan soal saluran air. Proyek harus jalan tapi saluran air juga harus diperhatikan, karena situasi seperti kemarin itu merepotkan warga. Saya akan instruksikan kepada semuanya untuk memastikan semua tali air berfungsi… Tidak ada saluran-saluran air yang sama sekali terhambat apalagi di daerah-daerah jalan protokol. Jadi dari kejadian-kejadian kemarin, kita akan panggil semuanya kita akan instruksikan untuk bersihkan semua saluran air yang menghambat… ” kata Anies, Selasa (12/12/2017).

Heran saya, bagaimana MRT yang sudah berjalan dan dibangun selama empat tahun ini, bisa jadi korban dan kambing hitam atas kejadian banjir di Jakarta oleh pemimpin kota? Pemprov DKI Jakarta sekarang berada pada masa paling kelam di dalam sejarah kota Jakarta, gubernur dan wakil gubernur saat ini.

Proyek 4 tahun, bisa-bisanya dijadikan kambing hitam dengan mudah. Apa salah kambing? Kalau mau salahkan Jokowi, ya terang-terangan saja. Takut sama Pak De? Pak De tidak perlu skak mat kalian, saya pun bisa skak mat kalian.