Anies Sandi Bohong Soal Rumah Murah

Anies Sandi Bohong Soal Rumah Murah
Anies Sandi Bohong Soal Rumah Murah
Anies Sandi Bohong Soal Rumah Murah

Satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan-kebohongan lainnya; atau
Diperlukan banyak kebohongan lainnya untuk menutupi satu kebohongan; atau
Kebohongan pertama akan selalu diikuti oleh kebohongan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kabar Trending – Masih begitu hangat dalam ingatan kita semua mengenai program-program terobosan para kandidat di Pilkada DKI saat ini. Pada putaran kedua, head to head antara para paslon nomor urut 2 dan 3, mereka dituntut untuk terus mempertajam visi dan misi yang telah lama digembar-gemborkan di berbagai ajang kampanye selama 6 bulan terakhir. Tujuannya jelas! untuk meyakinkan atau menaruh rasa percaya kepada para calon pemilih pada 19 April mendatang.

Ingat! saat ini tidaklah lebih dari memperkuat argumentasi mereka selama ini mengenai ide-ide brilian yang akan direalisasikan (terutama oleh paslon 3, Anies-Sandi) agar masyarakat mendapat keyakinan dan/atau kepercayaan.

Menurut Sun Tzu dalam buku yang ditulisnya: “Seni Berperang” (The Art of War), dia menggambarkan bahwa salah satu pilar paling utama dalam bernegara atau berkerajaan adalah faktor kepercayaan. Kalau pada titik ini tak ada lagi kepercayaan, apapun juga (baik program, terobosan atau strategi baru) tak akan memiliki daya pikatnya lagi. Kepercayaan merupakan perekat antara kedua belah pihak yang berkepentingan; dan karenanya harus selalu dipelihara dan diperkuat.

Program “Bodongan” Rumah Murah dengan DP Nol Persen

Sejak awal digulirnya program besutan Anies-Sandi mengenai rumah tapak di DKI untuk masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 7 juta, tak ada orang lain di luar kedua calon bersangkutan yang memperkuat argumentasi sebagai dukungan. Jangan ditanya lagi soal bully dan berbagai macam komentar disertai argumentasi mendasar di kalangan publik khususnya di media sosial mengenai keniscayaan akan terealisasinya terobosan paslon 3 ini.

Setelah terjepit karena terus di-bully netizen dan ditertawai berbagai pakar yang tahu persis mengenai kalkulasi dana yang dibutuhkan untuk memenuhi “janji surga” dan janji palsu paslon nomor urut 3, akhirnya mereka menyerah dan mengaku kalah. Pengakuan ini datang setelah mekanisme pembohongan publik selama ini telah menguras dana, daya dan kesabaran publik untuk bisa sekedar memahami nalar bumi datar ala Anies-Sandi.

Untuk lebih memperjelas argumentasi ini, saya paparkan beberapa alasan mendasar sebagai pijakan untuk kita pertimbangkan bersama:

Pertama, untuk “pertama” kalinya, kubu Anies-Sandi mengakui keabsahan data dari Pemprov DKI mengenai jumlah riil para warga ibukota yang belum berhasil memiliki tempat tinggal sendiri. Mereka baru menggunakan data valid dari Pemprov DKI untuk menyelamatkan muka mereka dan menutupi kebodohan serta pembohongan publik selama ini. Sungguh menyakitkan tetapi harus berbesar hati untuk menerimanya;

Kedua, data yang berhasil “dicuri” kubu Anies dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Pemprov DKI adalah jumlah warga yang belum berkesempatan untuk memiliki hunian sendiri sebanyak 303.209 orang. Bandingkan perbedaannya dengan penggelembungan angka yang disodorkan oleh Anies sendiri dalam debat kemarin yang berada di 1,3 juta orang. Data Bappenas DKI tidak lebih dari 25% dari angka yang diyakini tim Anies-Sandi. (Apa mungkin juga nanti akan ada penggelembungan suara? Hhmm… sungguh sulit untuk diprediksi!);

Ketiga, dalam sesi debat antar-Cagub di acara Mata Najwa beberapa hari lalu, program kepemilikan rumah tapak yang digembar-gemborkan paslon Anies-Sandi adalah untuk 1,3 juta warga DKI terutama dari generasi milenial. Tipe rumah murah yang digadang-gadang adalah yang bertarif di kisaran Rp 350 juta. Pemprov DKI akan menalangi DP yang berjumlah 15% atau Rp 52 juta untuk setiap unit rumah. Itu berarti, dana fantastis Rp 67,6 triliun yang akan ditanggung Pemda DKI sementara APBD tahun 2017 ini hanya 70,1 triliun. Wooww… luar biasa! Apakah ini masuk akal? Jawaban Anies-Sandi sudah pasti YA! karena ini hanya akal-akalan saja!

Keempat, kubu Anies-Sandi telah kehilangan nyali dan muka untuk secara jantan mengakui pembohongan “massal” ini dengan berhadapan langsung di depan publik. Informasi mengenai pengakuan yang memalukan ini, untuk sementara, diperoleh dari laman resmi tim paslon 3 tersebut (www.jakartamajubersama.com). Publik DKI dan masyarakat Indonesia pada umumnya masih menunggu, apakah paslon pemimpin muda di DKI ini berjiwa besar dan berhati mulia. Jika demikian, mereka harus berani mengakui niat licik dan picik mereka selama ini yang tak segan-segan memanipulasi data ala bumi datar dan membohongi masyarakat;

Kelima, apa yang dikatakan Ahok pada debat kemarin atau di beberapa kesempatan sebelumnya memang menjadi kenyataan. Dia sempat mengatakan bahwa adalah tidak baik dan tidak mendidik jika harus membohongi publik (masyarakat) demi meraih kemenangan! Bertarunglah secara jantan karena yang akan menang, bukanlah para kandidat pemimpin DKI melainkan publik Jakarta seluruhnya! Tinggalkanlah kenangan yang baik untuk warga Jakarta!

Keenam, Anies sudah sangat jelas termakan oleh kata-katanya sendiri: “Jangan pernah remehkan kata-kata…” ketika yang ingin dikritisinya adalah gaya ceplos-ceplos Ahok yang menuai banyak polemik dan dipercayai telah melukai hati warga Jakarta. Seandainya Anies sedang bercermin sekarang dan mengucapkannya lagi untuk dirinya: mampukah dia melakukannya? Kalau memang dia nekad dan mampu melakukannya, apakah dia berani melakukannya dengan mata terbuka untuk melihat mimiknya sendiri? Saya begitu sangsi!

Ketujuh, saya yakin bahwa setelah debat kemarin, Anies-Sandi bersama kubunya menyempatkan diri untuk membaca komentar-komentar brilian di opini Seword.com. Terpacu dengan kesadaran tersebut, kemudian mereka mulai belajar berhitung dan menemukan kenyataan bahwa kebohongan mereka sama sekali tidak mendekati situasi riil. Saat itulah mereka baru menepuk jidatnya berkali-kali. Aahh… apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur dan buruknya lagi, bubur pun sudah hangus kehitaman;

Kedelapan, menyadari akan kampanye dengan paket pembohongan publik yang sudah terendus kuat ini, paslon nomor urut 3 secara terpaksa harus menelan pil pahit dan berusaha untuk mengklarifikasi (atau sebetulnya menyusun strategi “pembohongan” baru) dan memperbaiki strategi memalukan tersebut. Semuanya sudah sia-sia! Kita semua sudah tahu termasuk tikus-tikus di got sana;

Kesembilan, sebagai bahan permenungan untuk kita bersama, manakah yang lebih realisitis: “kota terapung ala AHY alias Agus Yudhoyono ataukah rumah lapak dengan DP nol persen untuk 1,3 warga ala Anies-Sandi”? Silahkan para pembaca setia Seword menganalisanya dan memberikan jawaban dalam kolom komentar.

(BONUS untuk jawaban terbaik: anda bisa menggantikan Anies-Sandi sebagai penantang ideal sang petahana hehehehhehe…)

Pada akhirnya, motto paslon nomor 3 yang adalah “maju kotanya, bahagia warganya” bisa berubah menjadi setan gentayangan yang menghantui setiap warga Jakarta. Bukan lagi motto itu yang akan menjadi kenyataan melainkan “maju-mundur kotanya, bahagia pemimpinnya bersama antek-antek mereka!”

Teriring salam untuk Anies: “Jangan pernah remehkan kata-kata…”

Sumber : Seword