Anies Yang Ingin Menjadikan Kota Bhineka Tunggal Ika

Anies Yang Ingin Menjadikan Kota Bhineka Tunggal Ika
Anies Yang Ingin Menjadikan Kota Bhineka Tunggal Ika
Anies Yang Ingin Menjadikan Kota Bhineka Tunggal Ika

Kabar Trending – Perlahan-lahan Anies mulai cuci tangan dari tuntutan ormas-ormas radikal pendukungnya. Demi memperbaiki image, Anies mulai mengkhianati kontrak politik dengan ormas-ormas radikal yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota syari’ah.

Anies bahkan mengatakan bahwa kabar akan menerapkan peraturan daerah (perda) berbasis syariah bila terpilih memimpin Jakarta periode 2017-2022 adalah fitnah.

“Komitmen saya adalah menjadikan Jakarta sebagai contoh kota bineka yang bersatu,” kata Anies di Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (13/4/2017).

Anies mengatakan bahwa kepemimpinan di Jakarta selama ini tidak memunculkan persatuan. Oleh karena itu, dia ingin membangun Jakarta yang Bhinneka Tunggal Ika dan bersatu.

“Otomatis semua perda yang ada di Jakarta adalah perda yang berdasarkan kepada Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila,” kata Anies.

Sebelumnya, Anies-Sandiaga Uno meminta agar relawannya mencopot spanduk “Jakarta Bersyariah”. Spanduk ini dikaitkan dengan kampanye hitam terhadap Anies-Sandi.

Nalar licik mereka semakin terlihat. Anies menyadari bahwa dirinya akan kalah telak jika tida segera merubah haluan. Anies harus berani sedikit keluar dari tuntutan ormas-ormas radikal pendukungnya.

Jujur saya sama sekali tidak percaya dengan perkataan Anies yang manis ini. Perkataan Anies ini hanya untuk memuluskan langkahnya berkuasa di Jakarta. Ucapan Anies tidak selaras dengan perbuatan. Pendukung-pendukung Anies justru memperagakan kampanye yang mencederai nilai-nilai kebhinekaan. Berikut informasinya.

Tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)- Djarot Saiful Hidayat, melaporkan pembagian kaus “Pilih Gubernur Muslim” yang juga menampilkan gambar Anies Baswedan- Sandiaga Uno di Tanjung Priok kepada Panwaslu Jakarta Utara, Kamis (13/4/2017).

Komisioner Panwaslu Jakarta Utara Desinta mengatakan, mulanya tim Ahok- Djarot melihat pembagian kaus tersebut di wilayah Pasar Ular.

“Ada laporan dari tim nomor dua ( Ahok- Djarot), ada bagiin kaus banyaknya itu tiga mobil. Kausnya sedang dibagikan,” ujar Desinta saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Desinta mengatakan, kaus tersebut disimpan dalam dua mobil Daihatsu Gran Max dan satu Toyota Fortuner.

Kini, ketiga mobil tersebut dibawa ke Kantor Panwaslu Jakarta Utara. Kaus-kaus berwarna putih tersebut masih disimpan di dalam mobil.

Panwaslu Jakarta Utara langsung meminta keterangan dari tim Ahok- Djarot yang melaporkan pembagian kaus tersebut.

“Kami klarifikasi saja langsung. Ini lagi dikaji masuknya (dugaan pelanggaran) ke mana sama tim gakkumdu (penegakan hukum terpadu),” kata Desinta.

Dari gambar kaus yang diterima Kompas.com, kaus tersebut bertuliskan “Pilih Gubernur Muslim” dan “Surat Al Maidah: 51” di bagian depan.

Di kiri atas tulisan tersebut terdapat logo “Salam Bersama”, sementara di kanan atas tulisan terdapat foto Anies-Sandi.

Di bagian belakang kaus tersebut tertulis “Relawan Jaringan Merah Putih” lengkap dengan logo di atasnya.

Desinta mengatakan, Panwaslu Jakarta Utara akan mengkaji dugaan pelanggaran tersebut dan memutuskannya paling lama dalam lima hari.

Isu-isu sara dan politisasi agama ternyata masih menghantui Jakarta padahal sudah diperingatkan dan dikecam oleh pemerintah, ulama, dan kepolisian. Namun nampaknya mereka terlalu bebal. Jika keinginan belum tercapai, mereka akan terus melakukan itu.

Jika Anies memang ingin menjadikan Jakarta kota Bhineka, mengapa Anies diam saja melihat pendukungnya melakukan kampanye yang mencederai nilai-nilai kebhinekaan? Jawabannya karena Anies suka dengan tindakan pendukungnya. Anies menikmati karena tindakan pendukungnya mampu membuatnya maju ke putaran dua.

Perkataannya bahwa akan menjadi kota Bhineka hanya pencitraan saja. Mungkin Anies memang benar akan menjadikan Jakarta kota Bhineka, namun dia juga tidak menolak jika pendukungnya melakukan kampanye sara’ dan politisasi agama.

Bisa juga Anies akan menjadikan kota Jakarta sebagai kota Bhineka setelah menjadi gubernur. Jika belum jadi gubernur, tak masalah jika pendukungnya mencederai nilai-nilai kebhinekaan. Jika jadi gubernur, Anies memang harus menjadikan kota Jakarta sebagai kota Bhineka jika ingin kekuasaannya langgeng. Anies tentu punya ambisi untuk berkuasa di Jakarta hingga dua periode. Mungkin Anies nanti memang benar akan menjadikan Jakarta kota Bhineka demi langgengnya kekuasaan.

Sungguh sikap yang sangat licik. Begitu besar ambisi Anies untuk menjadi guberur sehingga dia rela menjadi bunglon. Dia bisa berubah-rubah wajah sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan. Dia bisa merubah ideologinya ke bentuk apapun yang penting bisa melanggengkan kekuasannya. Luar biasa !