Begini Tanggapan Ahok dan Djarot Soal Program Rumah Murah Anies Sandi

Begini Tanggapan Ahok dan Djarot Soal Program Rumah Murah Anies Sandi
Begini Tanggapan Ahok dan Djarot Soal Program Rumah Murah Anies Sandi
Begini Tanggapan Ahok dan Djarot Soal Program Rumah Murah Anies Sandi

Kabar Trending – Kala debat di Mata Najwa, Anies Baswedan babak belur di sesi dengan tema perumahan. Ahok menawarkan sewa di rumah susun untuk mengatasi masalah perumahan di Jakarta. Sementara Anies nampaknya ingin membuat terobosan dengan menawarkan rumah murah seharga 350 juta rupiah di tengah kota yang dapat dibeli oleh masyarakat tanpa DP dan bunga. Tentu saja ide tersebut dianggap mengada-ngada oleh banyak pihak, namun Anies begitu yakin bahwa ide tersebut bisa dilaksanakan.

Saat debat juga Anies Baswedan berkali-kali mengatakan bahwa banyak rumah dibawah 350 juta rupiah. Ada di situs rumah123 katanya, “Cek saja, ada di Jakarta Selatan tuh”. Berharap punya rumah tanpa DP dan bunga seharga 350 juta rupiah banyak pihak langsung mengecek ke web tersebut dan hasilnya ternyata memang ada rumah seharga 350 juta tapi jumlahnya sedikit sekali, hanya 5% dari seluruh rumah yang tertera di web tersebut.

Melihat kenyataan tersebut Ahok pun ‘menampar’ mulut manis Anies Baswedan.

“Kalau ada rumah seharga Rp350 juta, kasih tahu aku juga dong. Aku mau beli 10 unit rumahnya,” tutur Basuki yang beken disebut Ahok ini, sembari tertawa.

Saya juga sempat mendengar kabar bahwa ada rumah yang dijual dengan harga 350 juta rupiah. Tapi ukurannya 30 meter persegi, artinya sekitar 5 meter x 6 meter. Apakah itu termasuk rumah layak tinggal?

Jika memang ada rumah dengan harga jual semurah itu tentu warga langsung membelinya, ini rumah loh. Dan di Jakarta pula. Meski kecil tapi tetap saja ini sebuah investasi yang menguntungkan karena ada di tengah kota Jakarta. Bayangkan jika saya punya rumah layak dengan ukuran 5 x 6 seperti diatas dan harga murah, itu bisa saya ubah jadi kost-kost’an satu kamar. Lumayan pasif income dan pasti balik modal nantinya, belum lagi harganya tentu naik terus. Jadi pasti banyak warga yang akan membelinya, saya bukan bicara soal program Anies ini tapi saya bicara jual beli rumah yang selama ini terjadi. Jadi boleh dibeli dan kemudian disewakan kembali.

Sama seperti Ahok, ia pun menilai, jika masih ada rumah dengan harga jual terbilang murah seperti itu di ibu kota, warga pasti lekas memburunya. Namun, faktanya, banyak warga yang mengakui sulit mencari rumah murah dan terpaksa mencari di daerah penyangga Jakarta.

“Jadi ya itu, kalau rumah seperti itu masih ada, bolehlah saya diberi tahu, saya juga mau membelinya. Tapi ukurannya harus tipe 36 ya, sebab itu tipe rumah layak,” tukasnya.

Sementara nampaknya Pak Djarot Saiful Hidayat pun gatal ingin ikutan ‘menampar’ pernyataan calon gubernur nomor urut tiga tersebut soal rumah seharga Rp350 juta di ibu kota.

Djarot, Rabu (29/3), bahkan menantang Anies untuk menunjukkan lokasi rumah yang dimaksudkannya itu.

“Kalau ada seperti itu, di mana? Perumahan mana? Setahu saya, nilai jual rumah seperti itu adanya di daerah satelit (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Kalau di Jakarta, sulit. Saya ingin minta ditunjukkan (oleh Anies), saya pengin juga,” tutur Djarot sembari tersenyum.

Djarot mencurigai Anies salah mendapat informasi terkait harga jual tersebut. Alih-alih rumah, Djarot menduga yang dimaksud Anies itu adalah rumah susun hak milik atau apartemen.

“Kalau maksudnya rumah susun atau apartemen bisa harganya segitu, tapi kalau perumahan satu dua lantai sudah tidak ada,” terangnya.

Menurut riset portal Rumah123.com, 95 persen rumah yang dipasarkan saat ini sudah menyentuh angka Rp 480 juta ke atas. Sedangkan harga rumah di bawah angka itu hanya 5 persen. Komposisi nyaris serupa terjadi di area penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Rumah dengan harga di atas Rp 480 juta sebanyak 78 persen, sisanya di bawah itu.

Begitu juga dengan Riset KompasProperti yang melaporkan, rumah dengan harga di bawah Rp 350 juta berada di kawasan penyangga Jakarta, seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Saat debat saya masih ingat, Anies lagi-lagi terpojok dengan argumen-argumen cerdas Ahok dan ia hanya bisa berkata

“Pilihannya sederhana, Gubernur yang putus asa melihat kenyataan itu, atau Gubernur yang mau mencari solusi melihat kenyataan itu,”

Mungkin Pak Anies gak paham, ini bukan masalah mencari solusi tapi apakah solusi tersebut tepat dan bisa dijalankan. Misalnya solusi mengatasi global warming, saya bisa usul dengan menjauhkan bumi dari matahari. Tapi apa itu mungkin? Rumah murah 350 juta rupiah dengan DP 0 dan tanpa bunga, bagi saya terdengarnya seperti cara normalisasi sungai tanpa menggusur, yaitu diapungkan saja. Jadi inget siapa yah?

Saya ingin mengutip ucapan Ahok saat debat ketika membahas hal ini

“Saya enggak suka bohongin orang untuk menarik simpati,”