Demi Mengatasi Tanah Abang Sandiaga Uno Melibatkan Preman dan Anies di Anggap Ingkar Soal Janji UMP, Ahok Lebih Berani

Demi Mengatasi Tanah Abang Sandiaga Uno Melibatkan Preman dan Anies di Anggap Ingkar Soal Janji UMP, Ahok Lebih Berani

Info Jakarta Terbaru – Soal urusan sama preman memang Ahok gak ada matinya. Tanpa pernah takut dia memporak-porandakan Kalijodo tempat yang dikenal sebagai lahan prostitusi, preman di balik Kalijodo pun tidak berkutik. Begitu juga dengan Tanah Abang, tanpa rasa takut, penertiban dilakukannya tanpa kenal kompromi dengan para preman-preman Tanah Abang.

Itulah yang dilakukan oleh Ahok dalam menegakkan aturan, siapa saja yang melanggar aturan akan dia gasak tanpa pandang bulu. Menjadi wajar jika pada masa Ahok, Tanah Abang bisa dibuat teratur, padahal Tanah Abang dari dulu terkenal susah untuk diatur. Dan benarlah, ketika Ahok berhasil ditumbangkan, preman kembali merajalela bersama dengan kesemrawutan PKL yang kembali memenuhi trotoar di Tanah Abang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa preman yang menguasai suatu kawasan, melakukan kong kalikong dengan oknum-oknum pejabat dengan metode mutualisme. Jadi tidak gampang yang namanya membasmi premanisme. Ternyata benar dugaan saya, para preman akan berpesta pora tatkala Ahok bisa dijatuhkan.

Jika Ahok mengutamakan penegakkan peraturan dengan tegas, Anies bersama Sandi sepertinya mengutamakan diskusi. Tanpa terkecuali, Sandi pun mengajak diskusi para preman Tanah Abang untuk mengatasi kesemrawutan yang terjadi selepas Ahok lengser.

Memang idealnya menurut saya, yang namanya preman itu seharusnya tidak boleh dibiarkan karena preman termasuk ke dalam penyakit sosial yang dapat menjadi bom waktu bagi kehidupan bermasyarakat. Karena pada dasarnya semua diawali dari hal kecil-kecilan, mungkin pertama-tama hanya menjadi preman jalanan, namun lama-kelamaan karena dibiarkan bisa menjadi mafia kelas kakap, dari mendalangi perampokan sampai menjadi gembong narkoba dan juga bisa saja beralih menjadi preman berdasi.

Dikarenakan preman adalah penyakit yang dapat merugikan sesama manusia dengan tindakannya, sudah semestinya yang namanya penyakit haruslah dibrantas.

Jika hal di atas mengenai Tanah Abang, dimana dibutuhkan keberanian tingkat dewa untuk menertibkan kawasan tersebut. Selanjutnya tentang Anies yang dianggap ingkar janji mengenai UMP DKI.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal berpendapat bahwa Anies-Sandi berbohong dan mengingkari kontrak politik terhadap Koalisi Buruh Jakarta. Padahal kontrak tersebut sudah ditandatangani bersama.

Kontrak tersebut dilakukan pada saat masa kampanye pilkada yang lalu. Isi salah satu kontrak politik tersebut adalah menetapkan upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta nilainya lebih tinggi dari PP Nomor 78 tahun 2015.

Karena merasa dibohongi oleh Anies-Sandi, semenjak 1 November para buruh Jakarta mencabut dukungannya terhadap Anies-Sandi.

Bahkan Said menyatakan bahwa Ahok lebih berani mengambil keputusan terkait UMP DKI dengan tidak menggunakan PP Nomor 78 tahun 2015 saat menentukan UMP di tahun 2016.

“Namun dalam hal ini, Ahok jauh lebih berani dan ksatria dalam memutuskan UMP 2016, ketimbang Anies-Sandi yang lebih mengumbar janji dan mengingkari janjinya sendiri,” ujar Said seperti dilansir media.

Said semestinya sudah mengetahuinya dari awal, bahwa sebagai seorang pemimpin Ahok sudah jelas lebih berani yang penting masih masuk akal dan berada dikoridor yang benar, hal tersebut dapat dilihat dari aksi-aksi heroiknya melawan perampok uang rakyat yang menyisipkan anggaran siluman.

Tetapi apa mau dikata, ketika nasi sudah menjadi bubur. Meskipun buruh Jakarta mencabut dukungannya terhadap Anies-Sandi, hal tersebut tidak akan berpengaruh apa-apa lantaran pilkada telah usai dan kontrak politik tidak masalah jika tidak ditepati.

Atas terjadinya konflik antara Anies-Sandi dengan buruh DKI Jakarta akibat permasalahan mengenai kontrak politik yang ditepati, saya secara pribadi tidak menyalahkan Anies-Sandi. Jika memang benar ada penyesalan para buruh karena mendukung Anies-Sandi itu salah mereka sendiri, salah siapa mau dibohongi pakek janji-janji palsu saat pilkada.

Kabar Trending – Bila benar kejadiannya seperti yang said katakan, hal tersebut dapat dijadikan pelajaran ke depan bagi para buruh.

Hal di atas merupakan kejutan-kejutan dari pemimpin baru, meskipun kita tidak memilih Anies-Sandi saat pilkada DKI yang lalu, sudah menjadi kewajiban kita bersama mengawasi jalannya pemerintahan DKI. Karena dengan melakukan pengawasan serta mengkritisi kebijakan-kebijakan Anies-Sandi yang dianggap konyol, secara tidak langsung kita sudah ikut berpartisipasi dalam menjadikan Jakarta lebih baik pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.