Di TPS Rizieq Shihab, Pemilih Ahok Gagal Mencoblos Karena Diusir

Di TPS Rizieq Shihab, Pemilih Ahok Gagal Mencoblos Karena Diusir
Di TPS Rizieq Shihab, Pemilih Ahok Gagal Mencoblos Karena Diusir
Di TPS Rizieq Shihab, Pemilih Ahok Gagal Mencoblos Karena Diusir

Kabar Trending – Berliana Sitorus, warga Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, akhirnya dengan terpaksa meninggalkan TPS karena tidak diperbolehkan mencoblos padahal namanya terdaftar di DPT.

Berliana akhirnya terpaksa tidak menggunakan hak suaranya dan tidak mencoblos untuk menghindari kericuhan. Berliana diusir dengan alasan karena KTP-nya bukan E-KTP. Saksi Anies-Sandi di lokasi TPS menilai KTP yang dibawa warga pemilih tersebut tidak sah.

Mereka mempermasalahkan KTP yang dibawa Berliana bukan KTP elektronik. Sehingga hak untuk memilih kemudian diragukan. Padahal dalam DPT, nama Berliana tercatat sebagai pemilih.

Ketua Panitia Pemilihan Suara Petamburan berpandangan, semestinya warga tersebut diperbolehkan untuk memilih.

“Kalau nama pemilih sudah ada di DPT, maka dia berhak untuk melakukan pencoblosan. Soal KTP kedaluwarsa itu berurusan dengan kelurahan,” ujar Ketua Panitia Pemilihan Suara Petamburan.

Namun para Saksi pasangan calon nomor urut tiga, Anies-Sandi, memprotes keras dan tidak membolehkan Berliana mencoblos sekalipun namanya tercantum dalam DPT dan berhak melakukan pencoblosan.

Suasana semakin gaduh dan ricuh saat sejumlah warga yang mengaku warga RW 04 Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ikut-ikutan memprotes. Mereka membentak-bentak dan mengusir Berliana.

“Anda dibayar berapa, bilang saja berapa? Enak saja bisa leluasa milih ke TPS. Pulang sana!”, teriak mereka.

Untuk menghindari kericuhan dan keributan yang dibuat gaduh oleh segelintir oknum warga yanh mengaku warga Petamburan, akhirnya Berliana dengan terpaksa meninggalkan TPS dimana namanya terdaftar di DPT dan gagal mencoblos.

Dengan gagalnya Berliana mencoblos, artinya yang dirugikan adalah paslon Ahok-Djarot yang kehilangan satu suara di TPS 17 Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Satu suara sangat berharga.

Prilaku pengusiran itu tidak tahu aturan dan main hakim sendiri. Heran kok tidak ada Polisi atau TNI yang menjaga agar Berliana tetap bisa menggunakan hak konstitusinya untuk mencoblos.

Padahal untuk mengamankan hari H Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini, negara menerjunkan 64 ribu personil dimana tiap TPS dijaga oleh 1 Polisi, 1 TNI, 1 Linmas dan Pol PP agar warga DKI dapat melaksanakan amanah bangsa untuk mencoblos diatas landasan konstitusi, di atas landasan hukum, di atas landasan tidak diintimidasi dengan cara apapun.

Gaung statement yang berkali-kali dilontarkan oleh Prabowo Subianto, Anies Baswedan bahwa Anies-Sandi hanya bisa kalah kalau dicurangi, buktinya kecurangan berupa intimidasi terhadap warga yang akan mencoblos nyata-nyata dilakukan oleh tim Anies-Sandi di lapangan.

Ambisi berkuasa dengan cara begini adalah kejahatan, karena untuk meraih ambisi dilakukan dengan cara tidak beradab, tanpa etika kepatutan dan kepantasan.

Di TPS Kuningan, tempat Habibie mencoblos juga didatangi 15 orang yang mengatasnamakan tim pemenangan Anies-Sandi. Untuk apa tujuannya coba, kalau bukan mau intimidasi warga yang akan mencoblos. Untungnya diusir Polisi. Namun di TPS 17 Petamburan, sayangnya tidak ada Polisi atau TNI, suara Ahok-Djarot berkurang 1 suara.

Prilaku pengusiran dan intimidasi terhadap warga Petamburan Berliana Sitorus sehingga gagal coblos adalah tindakan yang telah mencederai hak konstitusi dan demokrasi dengan intimidasi-intimidasi yang mempecundangi konstitusi. Seharusnya yang beginian masuk unsur pidana.

Semoga Tuhan melawat kota ini agar pemimpin yang dibenci banyak orang karena berani mewujudkan keadilan sosial, yang telah mengabdi menjadi kacung warga DKI untuk membangun Jakarta dengan sepenuh hati tanpa ada secuil pun rasa dendam bisa memperoleh suara terbanyak.

Pandanglah Jakarta hari ini yang penuh dengan jejeran parjurit siap tempur demi mempertahankan ibukota negara akibat ulah pihak yang tidak siap kalah yang menghalalkan segala cara dengan upaya-upaya intimidasi terselubung.

Lima tahun perjalanan Jakarta bukanlah waktu yang singkat jika dipimpin oleh pemimpin yang tidak amanah.