Dukungan PKB Ke Ahok Akan Menohok Kaum Bumi Datar

Dukungan PKB Ke Ahok Akan Menohok Kaum Bumi Datar
Dukungan PKB Ke Ahok Akan Menohok Kaum Bumi Datar
Dukungan PKB Ke Ahok Akan Menohok Kaum Bumi Datar

Kabar Trendng – Pencoblosan pilkada DKI 2017 sudah semakin dekat, artinya arah koalisi di putaran kedua ini sudah mulai terpetakan dengan deklarasi partai PAN bergabung ke koalisi Anies-Sandi, dan partai PPP dan PKB yang kemungkinan besar bergabung ke koalisi nya Ahok-djarot. Sangat menarik ketika partai PPP dan PKB benar-benar resmi mendukung Ahok-Djarot.

Hal tersebut tentunya bukan saja atas pertimbangan kinerja petahana semata, adalah sikap yang didasari dari sebuah bentuk perlawanan terhadap paham Radikalisme yang menguat belakangan ini. PPP dan PKB sebagai basis yang memiliki konsep Islam nusantara yang bernaung dibawah Nahdlatul Ulama sangat menyadari, kehadiran seorang minoritas bernama Ahok menimbulkan gerakan separatisme dari kelompok radikal sangat masif.

Pandangan ekstrem kanan keagamaan yang mengharamkan Jakarta yang berpenduduk mayoritas Muslim di pimpin oleh non-Muslim merusak sendi-sendi sosial di masyarakat. Apabila mengingat intimidasi yang mereka lakukan terhadap perbedaan pilihan politik telah merobek tenun kebangsaan seperti yang di dengungkan Anies Baswedan ketika masih waras.

Intrik pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh gerombolan Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, Forum Umat Islam dan simpatisan PKS menjadi pertimbangan lain bagi PPP dan PKB sebagai basis umat muslim Nusantara yang moderat untuk mendukung Ahok-Djarot. Bagaimanapun juga, Indonesia harus dibalut dengan kemoderatan yang membawa keramahan beragama, bukan kemarahan.

Ismail Yusanto dalam keterangannya di markas Hizbut Tahrir Indonesia, yang videonya viral di Twitter mengatakan bahwa dengan mendukung Anies-Sandi melebihi dari sekedar mendukung pasangan calon Gubernur yang beragama Muslim. Yang lebih substansial mereka bisa terus berlanjut untuk tetap melakukan berbagai upaya merubah sistem pemerintahan dengan Khilafah.

Pernyataan seperti itu menurut penulis sangat naif, selain banyak yang harus ditempuh secara Ketatanegaraan, seorang Anies Baswedan ialah politisi yang mampu mengakomodir dirinya sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan. Setelah sebelumnya mendukung Jokowi di 2014 dengan gagasan Tenun kebangsaan, Anies Baswedan menggunakan kebunglonan itu dengan memanfaatkan kelompok radikal agar bisa mengantarkannya ke kursi Gubernur DKI Jakarta.

Cendekiawan Muslim Nadirsyah Hosen hingga turun gunung untuk menuliskan pandangan nya (Geotimes, 7 April 2017) tentang Ormas radikal dan demokrasi yang tersandera terhadap fenomena gerakan Radikalisme dari ormas yang mengatasnamakan Agama. Adapaun tulisan dari Fatuhorrahman Ghufron (Geotimes, 6 April 2017) yang menarik perhatian penulis karena menuangkan pikiran dengan judul Menangkal virus pemaksaan kehendak.

Kedua tulisan itu sangat menohok, selain karena refleksi diri terhadap sebuah fenomena yang bisa mengancam kemajemukan, dua penulis hebat itu menyelipkan sebuah gagasan atas emergency condition yang harus segera ditangani bersama. Begitupun dengan pandangan penulis, dengan bergabungnya PPP dan PKB sebagai partai politik yang berbasis Islam moderat harus melakukan antisipasi dan perlawanan terhadap kelompok yang berlindung di balik pasangan calon Gubernur Anies-Sandi.

Ada dua dampak sekaligus dari langkah politik PPP dan PKB apabila resmi bergabung dengan koalisi Ahok-Djarot. Pertama, sebagai basis Islam moderat akan menjadi angin segar bagi NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika karena masyarakat Indonesia yang beragama non-muslim akan tetap optimis atas keberlangsungan bernegara karena masih dominan nya umat Muslim yang pro-Demokrasi dan Pancasila.

Kedua, PKB dan PPP akan menohok kelompok radikal bahwa kasus penistaan Agama yang di dakwakan kepada Ahok murni dramatisasi pilkada, seperti yang di prediksi kan oleh Zuhairi Misrawi. Hal ini baik bagi kenaikan tingkat elektabilitas Ahok-Djarot untuk memenangkan kompetisi. Hal ini sangat penting, untuk mempertegas dominasi Islam nusantara yang moderat dan berkemajuan.

“Itulah mengapa banyak pemimpin Negara lain berkunjung ke Indonesia”

Kira-kira seperti itu ungkapan penutup yang dilontarkan Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani ketika memuji Indonesia dalam mengelola kemajemukan untuk perdamaian. Sebuah pujian yang menjadi anomali bahwa bangsa kita belum sepenuhnya berhasil mengelola kemajemukan apabila merujuk pada berbagai kejadian memalukan selama pilkada DKI berlangsung.

Sebuah catatan khusus untuk Indonesia yang akan selalu dihantui paham radikal maupun ancaman Terorisme. Tenun kebangsaan yang tak kunjung selesai diperdebatkan akan membuat bangsa Indonesia berjalan ditempat dan bahkan hancur berkeping-keping seperti negeri Timur Tengah. Langkah politik PKB yang berkoalisi juga dengan PPP akan menjadi obat penawar luka bagi bangsa Indonesia yang telah terkoyak hanya karena pilkada. Wallahualam bishawab.