Jakarta Darurat Ahok

Jakarta Darurat Ahok

Kabar Trending – Jakarta, dari sejak dulu kala sudah terkenal dengan peribahasa “Ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri!” dan itu nyata adanya. Para pencolengnya kejam-kejam!!

Dari sekian banyak gubernur yang pernah pemimpin Jakarta, sejak Ali Sadikin sampai Anies Baswedan, kita bisa menghitungnya dengan sebelah tangan, berapa gubernur yang dianggap berhasil melakukan gebrakan di Jakarta.

Sejauh yang saya ingat hanya ada 4 gubernur yang cukup menggebrak. Mereka adalah Ali Sadikin, Sutiyoso, Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama.

Dari 4 gubernur yang saya sebutkan diatas, kesamaan dari ketiganya adalah, mereka dikenal keras dalam melaksanakan kebijakan-kebijakannya.

Sutiyoso, menjabat gubernur DKI Jakarta selama periode (1997-2002 dan 2002-2007). Dua hari sebelum periode kedua jabatannya, sebuah surat kabar Ibu Kota menganugerahi Sutiyoso gelar ‘Gubernur Pembuat Berita Terpopuler Indonesia 2002.’

Penganugerahan ini didasari pemberitaan media massa yang tiada henti tentang Sutiyoso sejak akhir 2001 hingga Juli 2002. ”Tiada hari tanpa berita tentang Sutiyoso,” kata pimpinan suratkabar tersebut.

Sutiyoso yang meminta warga Jakarta untuk selalu kritis dan memberikan masukan kepadanya, siap menghadapi kecaman yang begitu gencar ketika terjadi banjir bulan Pebruari 2007 yang mengakibatkan ratusan ribu warga Jakarta harus mengungsi dan meninggalkan kediaman mereka. Dia sendiri mendatangi posko-posko banjir yang banyak terdapat ketika itu, dan siap berdialog dengan para korban. Untuk itu, Sutiyoso mengaku bahwa dia tiap hari tidur tidak lebih dari tiga jam.

Tanpa basa-basi, dia mengatakan banjir di Jakarta tidak dapat ditanggulangi oleh Pemprov DKI sendiri tanpa bantuan pemerintah pusat. Ini juga pernah dikemukakan Bang Ali Sadikin saat ia menjadi gubernur DKI. Bahaya banjir di Jakarta, kata Bang Ali, tidak dapat dihindarkan sampai kapan pun selama kita tidak mengadakan sistem drainase yang sempurna. Dan untuk mengatasi bahaya banjir dengan tuntas, biayanya mahal, terlalu mahal.

Namun bukan masalah penanggulangan banjir Ali Sadikin dikenang oleh Indonesia. Julukan dia sebagai Gubernur Maksiat pernah disematkan karena gebrakannya melegalkan perjudian dan pelacuran saat itu demi mendongkrak pendapatan daerah.

Ada satu fenomena dimasanya ketika Ali Sadikin menampar seorang direktur proyek yang nakal.

Penamparan tersebut terjadi ketika Bang Ali meninjau suatu proyek massal. Bang Ali terkejut karena pembangunan proyek itu macet lantaran kontraktor terlambat memasok semen. Bang Ali pun segera mengecek permasalahannya.

Ternyata direktur perusahaan itu melanggar kontrak. Harusnya dia mengirim semen langsung dari pabriknya, bukan dari grosir atau tangan ketiga. Tentu saja hal ini memperlambat pekerjaan. Maka Bang Ali minta agar direktur perusahaan pemasok semen itu dipanggil. Direktur tersebut baru datang pada panggilan ketiga setelah mangkir sebanyak 2 kali.

Bang Ali bertanya kenapa sampai terlambat. Apakah dia tidak sadar bahwa proyek ini untuk kepentingan warga ibukota? Ternyata jawabannya berbelit-belit dan tidak jelas. Bang Ali pun naik pitam dan langsung menampar direktur itu. Tidak cukup sekali, Bang Ali menamparnya tiga kali. (Sumber gambar: kaskus.com)

Dimasa Jokowi, tak terhitung berapa terobosan dan gebrakan yang dia lakukan. Kepemimpinan Jokowi yang sangat mengandalkan komunikasi makan siang terbukti berhasil menertibkan Jakarta. Sampai akhirnya Jokowi diusung untuk masuk Istana Merdeka dan Basuki Tjahaja Purnama melanjutkan posisinya sebagai gubernur Jakarta.

Program-program pembangunan dan penertiban Jakarta yang direncanakan Jokowi, diteruskan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Dia berhasil merapikan Tanah Abang, merubah Kalijodo menjadi RPTRA, menormalisasi sungai, dan ide-ide cemerlang lainnya yang membuat Jakarta mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Sekarang Jakarta dikelola oleh Anies Baswedan.

Sampan hari ini, tidak sampai 5 bulan memimpin Jakarta, Anies sudah mulai menuai kritikan, bahkan sampai pelaporan karena kebijakan-kebijakan yang tidak masuk akal.

Tanah Abang yang sudah tertata, kembali menjadi berantakan. Becak yang sudah hilang, Anies hidupkan untuk kembali beroperasi. Belum lagi kita bicara banjir yang kembali menggenang Jakarta hampir merata. Masalah persengketaan dengan warga yang dijanjikan tidak akan dipindahkan, membuat penanganan banjir terlambat dilakukan. Apa kerja ke 74 tim ahli yang dipekerjakan Anies tapi tidak punya ide apapun untuk menangani banjir dengat cepat.

Anies Baswedan disibukkan dengan hal-hal yang tidak berguna bagi warga.

Pendek kata, Jakarta menjadi lebih semrayut seperti kembali ke masa sebelum Sutiyoso berkuasa di Balaikota.

Kalau sudah begini, siapa yang bisa diandalkan dan diharapkan mampu membereskan lagi Tanah Abang? Menertibkan becak, menormalisasi sungai, memberikan pemukiman yang layak dan terjangkau bagi warga miskin dan seribu satu masalah lain yang belum sempat diselesaikan. Anies tidak bisa diharapkan mampu menyelesaikan PR yang ditinggalkan Ahok sebelumnya.

Saya pribadi tidak punya bayangan akan sosok lain yang mama membereskan Jakarta.

Djarot Saeful Hidayat sudah sibuk menghadapi Pilkada di Sumatra Utara. Heru Budi Hartono, masih terlalu amatir untuk memimpin kota segalak Jakarta. Gubernur Perempuan? I don’t think so. Ibu Risma dari Surabaya? Mana mau dia pindah ke Jakarta. AHY? Apalagi, dia masih harus banyak belajar.

Jakarta bukanlah kota untuk dijadikan media uji coba tentang bakat kepemimpinan seseorang. Jakarta membutuhkan seorang pemimpin dengan jam terbang yang tinggi dan berpengalaman.

Jakarta tidak punya banyak waktu lagi untuk bisa menyelamatan kota dari bahaya tenggelam. Dan tidak punya banyak waktu lagi untuk mengejar ketinggalan tinggal landas dari kota-kota dunia lainnya.

Dan orang yang memiliki paket komplit antara kecerdasan, kecepatan, ketegasan, profesional dan transpiran itu hanya Basuki Jahaja Purnama. Mungkin dia bukan Muslim, tapi perilakunya lebih muslim dari seorang muslim.

Itu sebabnya saya bilang, “JAKARTA DARURAT AHOK!”