Jessica Bebas ! Ini alasannya

Jessica Bebas ! Ini alasannya
Jessica Bebas ! Ini alasannya
Jessica Bebas ! Ini alasannya

Kabar Trending

Darmawan, Slamet dan Djaja : Kasus Mirna Salihin.

Kalau teman mengikuti perkembangan kasus Mirna yang sekarang memulai babak baru, teman akan mengenal 3 tokoh diatas. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pihak keluarga Mirna, dan juga Mirna tentunya. Saya ingin membahas trio pria macho ini.

1. Darmawan , Ayah dari Mirna ini mungkin orang yang paling terpukul atas kematian putri tercintanya, tapi sepak terjang Darmawan dalam menggiring opini public, menjual “saya ayah korban” untuk menarik simpati jelas beliau lakukan dengan sangat semangat. Pak Darmawan sering sekali membocori apa yang dilihatnya kepada public, bahkan jauh sebelum persidangan dimulai. Tapi Darmawan tetap manusia biasa, saya tebak beliau lagi dikadalin, kenapa begitu ?

– Beliau seringkali mengatakan “cek google aja, coba baca, pasti sama tuh blablabla”, yang saya lucu apakah beliau benar-benar googling ? kenapa begitu ?

A. Sejak sidang kasus Mirna di gelar , semua saksi dan laporan dokter serta BAP mengatakan tubuh Mirna membiru, bahkan saksi mata ( pegawai olivier ) juga mengatakan hal yang sama, dan semua omongan itu sudah “abadi” karena masuk youtube. Belum lagi dokter di Rs. Abdi Waluyo , rumah sakit pertama kali Mirna singgah ( walau sudah meninggal ) mengatakan tubuh Mirna membiru. Tapi kemarin secara tiba-tiba, Darmawan menunjukan bukti print foto, kalo tubuh Mirna memerah, siapa yang mengatakan keracunan sianida harus merah ? kata saksi ahli odong-odong yang dipojokan jaksa , apakah anda dibayar ? yup.
Prof. Beng Ong yang mengatakan hal tersebut di persidangan untuk pertama kalinya , darimana Beng Ong tahu kalo Mirna sebelumnya berwarna biru ? ya dari laporan Puslabfor Polri yang dia baca. Kalo Beng Ong dibayar dan terlalu bodoh untuk Indon, kenapa bapaknya Mirna buru-buru menunjukan bukti foto Mirna yang memerah ? kemarin-kemarin omongan Mirna membiru mau dikemanain pak Darmawan ? lagian sekarang jaman photoshop bos, saya juga bisa ngefekin kaya gitu. Hayo ?. Ingat , kulit Mirna itu putih, jadi sangat mudah membedakan mana biru dan mana merah, apa pada buta warna ?

B. Bapaknya Mirna percaya sama sebuah artikel ngalor ngidul yang diklaim ditulis oleh seorang PhD bernama Theo, mengaku tinggal di Australia dan sekolah di German, tapi Theo tetap orang Indon, dalam tulisan tersebut, Theo punya asumsi kalo Jessica menaruh serbuk sianida tersebut di taro disedotan, Jessica sempet ke WC dll. Tau dimana bodohnya si Theo ? , dan kenapa Darmawan harusnya malu ? karena sejak awal Puslabfor Polri mengatakan Mirna keracunan HCN, alias Hydrogen Cyanide. Dan tidak ada Hydrogen Cyanide berbentuk serbuk, adanya liquid dan gas. Kalo serbuk bisa jadi NaCN alias Sodium Cyanide atau FeCN yang biasa dibilang Prussian blue, tapi saya juga tahu kenapa Polri memilih HCN ketimbang NaCN , simple, karena NaCN ga stabil. Dan kalo pake FeCN ? wah itu lebih runyam lagi jelasinnya hahaha.

Kalau anda google check Cyanide (HCN ) Poisoning, semua hasil dalam googling anda akan menunjukan bahwa tubuh memerah, tidak ada yang mengatakan keracunan HCN tubuhnya membiru. So, apakah pak Darmawan googling beneran ? Lagian pak Darmawan saya mau tanya juga sama Puslabfor Polri, walau HCN itu sangat stabil, tapi boiling pointnya itu pada suhu 25.6 celcius, sekarang saya tanya , gimana Jessica mengkondisikan HCN tersebut pada suhu yang pas ? apalagi Jessica jalan kesana kemari, naek mobil, masukin ke tas, dll. Kenapa cuman pas bagian es saja yang dibahas ? . Buat saya pribadi , yang bisa mengkondisikan HCN stabil dibawah suhu 25.6 ya pihak Olivier yang punya perangkat pendingin super lengkap. Dan sangat mungkin HCN nya dalam bentuk yang sudah beku dan dituang sebagai Es untuk kopi Mirna pak :).

2. Dr. Slamet.

Dr. Slamet adalah dokter forensik yang menjadi saksi ahli yang disediakan oleh JPU , tujuannya simple untuk memberatkan Jessica. Dr. Slamet adalah ahli forensik yang ditugaskan Polri untuk mengambil sample dalam lambung, dan Dr. Slamet lah yang menemukan kandungan 0.2 ppm HCN pada lambung Mirna. Dr. Slamet sering sekali disebut oleh pak Darmawan dengan sebutan “Orang pinter tuh dokter” . Tapi ketika ditanya oleh pengacara Jessica apakah 0.2 ppm pada lambung Mirna dosis yang mematikan ? Dr. Slamet langsung bernada tinggi, menunjukan ketidak sukaannya atas pertanyaan itu, padahal pengacara Jessica mengatakan “Saya dikasih tau teman saya yang ahli forensik juga, klau 0.2 ppm di lambung itu tidak berbahaya”. Anda tahu siapa teman yang dimaksud ?

3. Dr. Djaja.

Betul, teman dari pengacara Jessica yang dimaksud ini adalah Dr. Djaja, Dr. Djaja adalah seorang ahli Patologi Forensik dari RSCM sama seperti Dr. Beng Ong dari Australia, yang dihadirkan oleh pengacara Jessica. Kemarin, waktu Dr. Djaja memberikan kesaksian, banyak pihak yang meninggi, salah satunya para anggota JPU yang biasanya slow, jadi meninggi , kenapa JPU nya jadi gitu ? ntah lah, mungkin udah janjiin Istrinya beli mobil baru, kalo menangin kasus Jessica.

Kemampuan Dr. Djaja tidak ada yang meragukan, beliau banyak menghandle kasus-kasus rumit, salah satu contoh kasus rumit yang dia handle adalah kasus kematian adik kita Angeline dari Bali, Yap!. Dr. Djaja lah yang mengungkap bahwa Angeline mengalami kekerasan fisik dan kekerasan seksual , bukan Dr. Slamet, karena apa ? karena pak Djaja, memiliki nama lengkap Prof.dr. Djaja Surya Atmadja, DFM., SH, SpF., Ph.D. Beliaulah yang bisa mengungkap detik-detik akhir kematian adik kita Angeline dari tubuhnya yang sudah sangat membusuk.

Di persidangan kemarin Dr. Djaja , mengatakan pada Hakim , “Sudah lah pak kalo tidak ada kandungan sianidanya tidak usah dipaksakan”. Tapi hakim Binsar memang terlihat sekali sudah pro sama Mirna, dan mengatakan “biar kami yang memutuskan dan baru anda yang mengatakan ini, 3 saksi dari JPU tidak.” . Selain itu Dr. Djaja juga mengatakan “Pak kalo kandungannya 7400 ppm pada kopi , itu orang 1 kafe udah pada kolaps nyiumnya, karena pasti ada yang sudah berubah bentuk menjadi gas “.

Mau tau lucunya lagi ? Dr. Djaja adalah dokter yang menyuntikan formalin ke tubuh Mirna, dan dia juga memeriksa kematian Mirna secara iseng ( tidak di otopsi ) , cukup dengan mencium bau yang keluar dari mulutnya, walaupun memang beliau memastikan metode tersebut tidak akurat 100% , tapi secara pengalaman beliau itu sangat membantu. Dan beliau lah yang melihat mayat Mirna beberapa jam setelah kematian Mirna, berbeda dengan Dr. Slamet yang selalu dipuji Darmawan. Apakah Dr. Djaja melihat mayat Mirna memerah layaknya ciri orang yang keracunan Sianida ? Meh. Dan yang hebatnya pak Darmawan tidak mengenal Dr. Djaja :)), padahal pak Djaja adalah orang yang pertama kali menawarkan Otopsi tubuh Mirna.

Polri tetaplah Polri, yang punya bukti banyak bisa dihilangkan ( contoh SP3 pembakar lahan ), yang tidak ada buktinya bisa diadakan, contoh kasus ini. Pembenaran bukan Kebenaran 🙂 . RIP Mirna!.