Kekalahan Anies Sandiaga di Depan Mata

Kekalahan Paslon 3 Anies Sandiaga di Depan Mata
Kekalahan Paslon 3 Anies Sandiaga di Depan Mata
Kekalahan Anies Sandiaga di Depan Mata

Kabar Trending – Survei awal minggu ini muncul dengan hasil Anies menang sebanyak 46% dan Ahok hanya 39%. Anies langsung terlihat jumawa dengan berbagai pernyataannya di media-media bahkan berani menawarkan Ahok sebagai penasihat kelak jika mereka menang. Mungkin mau mereka adalah yang kerja Ahok yang ngoceh Anies. Tapi sesungguhnya mereka kecewa karena tidak sesuai harapan mereka dan ini juga menunjukkan peluang Ahok menang cukup besar. Asalkan Ahok dapat memainkan kartunya dengan baik.

Hasil Pilkada putaran pertama adalah 17,02 % untuk Agus, 42,99 % untuk Ahok dan 39,95 % untuk Anies. Selepas Quick Count beberapa waktu yang lalu, Anies dan partai pendukungnya begitu yakin akan menang dengan perolehan suara yang dapat mencapai 57%. Gabungan suara Anies dan Agus karena mereka yakin pendukung Agus akan memilih Anies kelak diputaran kedua.

Namun hasil survei awal yang diadakan pada tanggal 21 Februari justru menunjukkan perolehan suara Anies hanya 46% saja jauh dari 57% yang mereka harapkan. Tentu ini sebenarnya kabar buruk bagi Anies tapi dengan kecerdasannya dan mulut manisnya Ia ubah hasil survei tersebut menjadi dorongan bagi pendukungnya. Semangat meraih kemenangan ia hembuskan untuk meningkatkan mental pendukungnya dan untuk menurunkan mental pendukung Ahok. Hasil tersebut akan memperkuat bargain Anies untuk mencari dukungan ke kubu-kubu lain seperti Cendana mungkin. Ia sengaja membangun opini bahwa survei tersebut menunjukkan kemenangan bagi dirinya, padahal jika kita cerdas melihatnya justru yang terjadi sebaliknya.

Kita harus teliti dalam mengamati hasil survei, bukan saja soal siapa yang menang tapi juga kapan survei itu dilakukan, kenapa seperti itu, bagaimana hasil sebelum-sebelumnya dan juga targetnya. Hasil survei kali ini justru menurut saya menunjukkan buruknya Anies dimata masyarakat Jakarta. Dia baru saja kehilangan potensi suara hingga 10% lebih!. Suara Anies pada survei yang diadakan pada tanggal 21 Februari hingga 28 Februari seharusnya bisa mencapai lebih dari 46%, mendekati 53%-54% dengan asumsi sedikitnya persentase pendukung Agus yang menyeberang menjadi pendukung Ahok. Itu sebabnya Anies buru-buru membuat statement bahwa ia akan menang. Ia ingin membangun persepsi itu dengan kuat agar semangat pendukungnya naik dan menjadi hantaman bagi daya juang pendukung Ahok.

Dari target 17% pendukung Agus yang hijrah mendukung Anies ternyata hanya sekitar 6% saja yang pindah. Artinya sebanyak 11% menjadi golput, mendukung ahok, atau wait and see. Nah justru inilah peluang Ahok, karena kubu Ahok justru berhasil menjegal potensi suara Anies yang seharusnya bisa mencapai 50% lebih. Itu sebabnya akhir-akhir ini Anies meniru program Agus, dulu Anies mencibir program 1 Milyar untuk RW kini Anies malah melipat gandakan menjadi 3 M untuk RW. Jadi jelas terlihat Anies akan ngomong apapun demi meraih suara, tidak ada idealisme selain kekuasaan.

Lalu kemana potensi suara milik Anies yang hilang 11% tersebut? Kemungkinan besar mereka sekarang Golput. Suara Golput ini bisa dikonversi menjadi suara milik Ahok karena 11% tersebut adalah pendukung Agus yang jelas-jelas menolak Anies tapi belum tentu menolak Ahok. Kemungkinan besar mereka adalah pendukung Agus yang kecewa karena Anies merebut suara pendukung Agus diakhir-akhir masa kampanye. Mereka-mereka yang merupakan pemilih menggunakan logika bukan emosional karena jika emosional-nya dominan maka sudah pasti mereka akan beralih mendukung Anies.

Jika hasil survei tersebut diperdalam maka kita dapat memperoleh sesuatu yang menarik.

Ada empat alasan besar warga memilih Anies-Sandi:

Pertama, soal politik identitas atau soal kesamaan agama dan berkembangnya isu “asal bukan Ahok” sebanyak 55,9 persen responden.
Kedua, faktor kompetensi menurut 13,3 persen responden.
Ketiga, faktor framing personal menurut 8,6 persen responden.
Keempat, kinerja mesin partai politik menurut 5,7 persen responden.

Sementara alasan warga memilih Ahok adalah:

Pertama, sudah teruji kompetensinya menurut 41,2 persen responden.
Kedua, 34,5 persen responden lainnya memilih Basuki-Djarot karena framing personal,
Ketiga, 8,8 persen responden karena kinerja mesin partai politik.

Dari data diatas kita bisa lihat bahwa 55% lebih mereka memilih Anies bukan karena faktor “Anies-nya”, bukan karena kompetensinya apalagi personality-nya. Tapi murni karena masalah Agama dan sebagian besar dari 55% tersebut adalah karena kasus tuduhan penistaan agama terhadap Ahok.

Ahok dan para pendukungnya masih punya waktu satu bulan untuk terus menjegal suara Anies agar stagnan di 46% dan turun. Saat ini sidang kasus Ahok giliran kuasa hukum Ahok memajukan saksi-saksi fakta yang tentu akan meringankan Ahok. Kita tentu ingat bagaimana pengaruh sidang Ahok terhadap elektabilitas Ahok. Saat Ahok dipaksa menjadi tersangka, elektabilitasnya jatuh hingga dibawah 20%. Namun seiring dengan pengadilan yang mulai berjalan, saksi-saksi pelapor terlihat meragukan, malah beberapa diantaranya balik dilaporkan karena tuduhan saksi palsu. Elektabilitas Ahok bergerak naik hingga menang di putaran pertama.

Tentu kedepan hal yang sama akan terjadi, baru selasa kemarin tanggal 7 Maret saksi Eko Cahyono dihadirkan sebagai saksi fakta dari kuasa hukum Ahok. Sedangkan survei Median diatas dilakukan mulai tanggal 21 Februari hingga 28 Februari. Perlu juga diperhatikan bahwa 72% warga DKI puas dengan kinerja Ahok tapi elektabilitasnya Ahok dibawah Anies hal tersebut terjadi karena hanya faktor fitnah penistaan agama.

Jadi kunci kemenangan Ahok adalah pengadilan, semakin jelas bahwa kasus ini hanya politik, kriminalisasi, dan Ahok tidak menistakan agama maka elektabilitas Ahok akan meningkat sebaliknya justru Anies yang akan semakin kehilangan suara. Ahok dan kuasa hukumnya pasti akan bermain dengan cantik, ia pasti dapat mematahkan opini-opini penista agama yang saat ini sudah hinggap dikepala banyak orang. Tapi mereka harus melakukan itu dengan cepat dan butuh dukungan dari para pendukungnya untuk aktif menyebarkan fakta-fakta yang terkuak di pengadilan.