Masalah Pidato Pribumi, Gubernur Anies Dilaporkan ke Polisi

Kabar Trending, Berita Politik, Berita Politik Terhangat, Berita Politik Terbaru, Gubernur Anies Baswedan, Pidato Anies Baswedan, Pelantikan Gubernur DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta

Pro dan Kontra Pun Muncul dari Pidato Anies Tersebut

Berita Politik Terhangat – Baru saja dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sudah dilaporkan ke polisi dikarenakan pidatonya yang menyinggung tentang pribumi saat acara pelantikan kemarin.

Berdasarkan informasi yang diterima, organisasi Gerakan Pancasila melaporkan Anies ke polisi dengan nomor pelaporan adalah LP/1072/X/2017/ pada tanggal 17 Oktober 2017. Pelapor sendiri merupakan seorang Koordinator Gerakan Pancasila yaitu Jack Boyd Lapian bersama dengan pengacaranya, Rudi Kabunang. Keduanya tiba di kantor Bareskrim Polri, Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, pada hari Selasa, 17 Oktober 2017 pukul 18.30 WIB. Selain dua orang tersebut, tampak 3 anggota dari Banteng Muda Indonesia DPD DKI Jakarta yang mengenakan almamater merah berlambang banteng pada dada bagian kirinya.

Rudi Kabunang selaku pengacara mengatakan bahwa pelaporan ini dilakukan karena ada indikasi tindak pidana yang melanggar peraturan tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis yang dilakukan oleh Anies Baswedan.

“Saat ini atas nama Gerakan Pancasila melakukan pelaporan sehubungan dengan adanya tindak pidana yang melanggar UU nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan juga etnis yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta terpilih pada 16 Oktober 2017 ketika sesi acara sertijab sehubungan dengan pidato politik,” ujar Rudi Kabunang.

Jack melanjutkan bahwa makna dari kata pribumi yang disebutkan oleh Anies diduga bisa memecah belah keberagaman di Indonesia. Dirinya pun mempertanyakan apa maksud dari pribumi yang dimaksudkan oleh Anies.

“Petaka di sini dikatakan Pak Anies pribumi. Pribumi yang mana ? Pribumi Arab? China? Siapa? Karena saya lihat ini memecah belah Pancasila. Pada Pancasila taka da lagi apa bahasamu, apa ras, semua menjadi satu,” sambut Jack.

Jack mengatakan bahwa pihaknya sudah menyerahkan berkas lampiran dari video pidato Anies sebagai bukti. Gerakan Pancasila melaporkan Anies atas dugaan tindak pidana diskriminatif ras dan juga etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 b ayat 1 dan ayat 2 serta Pasal 16 U No 40 Tahun 208.

Anggota DPD Banteng Muda Indonesia DKI Jakarta, Abdul Kholih juga ikut berkomentas atas kata pribumi tersebut. Menurutnya, sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta yang baru, Anies seharusnya bisa merajut persatuan keberagaman etnis warga dan berkarya.

“Kami juga mengkritisi Bapak Anies Baswedan selaku Gubernur terpilih ini. Sudah saatnya membangun Jakarta yang lebih baik, merajut hal-hal di dalam pilkada kemarin yang sudah mencoreng keberagaman etnis. Jadi sudah bukan saatnya membicarakan hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Abdul juga tidak lupa mengingatkan kepada semua calon kepala daerah lainnya yang akan bertarungpada Pilkada 2018. Dirinya berhadap semua kepala daerah di Indonesia ke depannya tidak melakukan hal yang sama.

“Dan ini jadi pelajaran bagi kepala daerah yang akan berorasi ke depannya agar tidak lagi mengucapkan adanya pribumi dan nonpribumi. Karena dibalik itu semua, konflik antar-suku, ras, budaya, dan agama bisa timbul,” lanjut Abdul.

“Ini hanya sebagai contoh kenapa kita angkat kasus ini supaya kepala daerah nantinya bisa melihat kasus ini,” tuturnya lagi.

Sebelumnya, Anies memang menyinggung soal pribumi kala berpidato di hadapan warga yang hadir pada acara Selamatan Jakarta setelah dirinya dilantik dan melakukan sertijab di Balai Kota DKI, Senin malam kemarin. Anies awalnya membahas soal praktik colonial di masa lalu, termasuk juga di Jakarta.

“Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami,” sebut Anies dalam pidatonya.

Berita Politik Terbaru – Pidato ini kemudian viral dan Anies pun menjelaskan konteks pidato tersebut dengan menyebut apa yang ia sampaikan terkait dengan masa penjajahan.

“Itu pada konteks era penjajahan. Karena saya menuliskan juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan,” ungkap Anies.

Setelah dilaporkan, Anies mendapatkan pembelaan dari Advokat Cinta Tanah Air (ACTA). ACTA menilai bahwa tidak ada yang salah dengan istilah pribumi yang diucapkan oleh Anies pada pidatonya tersebut.

“Ratusan advokat ACTA akan pasang badan untuk memberla Gubernur Anies Baswedan terkait istilah pribumi yang disampaikan oleh beliau dalam pidato di Balai Kota, 16 Oktober 2017. Kami telah membaca berita soal pidato tersebut secara saksama dan menurut kami tidak ada yang salah dengan pidato tersebut,” tutur dari Ketua ACTA Krist Ibnu T Wahyudi dalam keterangan tertulisnya.