Melayani dengan Hati Ahok Versus Memimpin dengan Hati Anies

Melayani dengan Hati Ahok Versus Memimpin dengan Hati Anies
Melayani dengan Hati Ahok Versus Memimpin dengan Hati Anies
Melayani dengan Hati Ahok Versus Memimpin dengan Hati Anies

Kabar Trending – Anies dalam perdebatan semalam menawarkan suatu alternatif kepemimpinan yang berbeda dari apa yang dilakukan Ahok. Kalau Ahok dan Djarot dengan moto yang sudah dikenal,”Melayani dengan hati“. maka Anies menawarkan hal yang berbeda. Maksudnya mungkin ingin memakai moto atau semboyan yang memakai kata ,”Hati”, itu tapi sudah keduluan Ahok. Bukan hanya keduluan tapi Ahok sudah melakukannya!. Akhirnya Anies mengatakan bahwa dia akan memimpin dengan hati! Pendekatan dan prinsipnya ini jelas berbeda. Bagaimana bedanya?

Ahok sendiri selama ini menampilkan kepemimpinan yang dikenal dengan kepemimpinan pelayan (Servant leadership). Model kepemimpinan ini adalah yang dikenal dengan melayani dengan hati, jadi menempatkan pelayanan sebagai hal yang utama. Kelihatannya istilah ‘pemimpin’ dan ‘pelayan’ ini berlawanan alias bertentangan tetapi sebenarnya bisa dipadukan. Paduan keduanya itu yang dikenal dengan istilah paradoks.

Apakah mungkin memadukan model kepemimpinan ini dalam dunia nyata, bukan hanya gagasan? Pastinya bisa. Adalah Robert K. Greenleaf (1904-1990) pada tahun 1970 dengan bukunya yang berjudul The Servant as Leader yang memperkenalkan istilah ini dalam dunia kepemimpinan. Greenleaf adalah Vice President American Telephone and Telegraph Company (AT&T) .

Greenleaf berpandangan bahwa seorang pemimpin besar adalah melayani orang lain. Kepemimpinan yang sejati timbul dari mereka yang motivasi utamanya adalah keinginan menolong orang lain. Bukankah hal ini terang dan terlihat jelas oleh mata hati penduduk DKI saat ini?

Pemimpin Pelayan = Melayani dengan Hati

Greenleaf menyatakan pemimpin pelayan adalah orang yang mula-mula menjadi pelayan. Dalam buku The Servant as Leader dia menulis : “ Ini dimulai dengan perasaan alami bahwa orang ingin melayani, memiliki hati yang melayani lebih dulu. Kemudian pilihan sadar itu akhirnya membawa orang untuk berkeinginan memimpin.”

Berbeda dengan kandidat gubernur saat ini yaitu Anies, Anies tidak ingin menjadi pelayan tetapi ingin menjadi pemimpin terlebih dahulu. Lihat saja ucapannya,”Jakarta harus punya gubernur baru!”. Pada perdebatan dalam acara Mata Najwa jelas sekali ambisinya untuk memecat Pak Ahok dari jabatan sebagi gubernur DKI.

Anies mengucapkan keinginannya untuk memecat Ahok tanpa rasa malu, penuh dengan nafsu dan ambisi. Apa yang dia ucapkan adalah berasal dari hati. Jelas sangat terlihat model seperti ini bukan sebagai pelayan tapi pemimpin yang ambisius, pemimpin yang tanpa hati!

Orang yang mau mengedepankan untuk menjadi pemimpin terlebih dahulu, ambisi atau hasrat berkuasanya itu begitu dominan sehingga sulit untuk memiliki jiwa atau hati yang melayani. Sedangkan orang yang mau menjadi pelayan terlebih dahulu maka dalam hati dan jiwanya akan selalu memunculkan dan menempatkan kepedulian atau kebutuhan orang lain sebagai prioritas utama, bukan dirinya.

Perbedaan yang paling mencolok adalah orang yang menjadi pemimpin lebih dulu itu lebih didorong oleh dorongan hati yang penuh ambisi akan kekuasaan atau posisi. Berbeda dengan pelayan yang mengesampingkan ambisi itu karena prioritas utamanya adalah melayani. Ini adalah dua hal yang berbeda.

Seorang pelayan akan memastikan lebih dulu untuk melayani dan memprioritaskan kebutuhan orang lain yang dilayaninya. Seorang pemimpin jelas prioritas utamanya adalah bagaimana mengejar kekuasaan itu apapun caranya karena bagi dia kedudukan atau posisi itu adalah segala-galanya sedangkan rakyat itu hanyalah kamuflase dari apa yang menjadi ambisinya.

Kepemimpinan pelayan memandang masalah di Jakarta sebagai masalah yang kongkrit sedangkan seorang pemimpin yang tidak berjiwa pelayan akan sibuk berkutat dengan gagasan yang penuh retorika dan teori yang membumbung tinggi.

Kepemimpinan pelayan adalah berorientasi pada perubahan yang secara kongkrit, real atau nyata dalam masyarakat. Kepemimpinan pelayan selalu mencari peluang dan cara untuk menciptakan perubahan positif di seluruh kehidupan masyarakat.

Greenleaf dalam bukunya menyatakan kebutuhan akan jenis baru model kepemimpinan yaitu suatu model kepemimpinan yang menempatkan pelayanan kepada orang lain, termasuk karyawan, pelanggan dan masyarakat sebagai prioritas nomor satu.

Ahok mengadopsi model kepemimpinan itu dengan mengutamakan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat DKI bahkan kepada rakyat kecil yang dieksploitasi oleh Anies sebagai kaum yang tidak diperhatikan Ahok. Ahok jelas berpihak kepada rakyat kecil, berbeda dengan teori yang njelimet dari Anies yang entah berpihak pada siapa, tapi sebenarnya berpihak pada dirinya sendiri.

Ahok jelas memperhatikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara holistik. Bukan hanya pembangunan fisik yang selalu disindir oleh Anies terhadap Ahok tetapi juga pembangunan manusianya. Jadi jelaslah bahwa kepemimpinan bukanlah kekuasaan, bukan keahlian melakukan pertunjukkan gagasan atau ide semata, atau rencana-wacana yang tidak membumi.

Kepemimpinan pelayan adalah melayani dengan hati. Jakarta mencari bukan hanya pemimpin tapi pemimpin pelayan. Pemimpin yang memiliki hati yang melayani. Percuma kalau pemimpin yang memimpin dengan hati tapi tidak mau melayani dengan hati!