Merayakan Ketololan Anies dan Sandi untuk Ahok, Djarot 2018 dan Jokowi 2019

Merayakan Ketololan Anies dan Sandi untuk Ahok, Djarot 2018 dan Jokowi 2019

Kabar Trending – Di dunia media sosial kini tengah terjadi gelombang besar perayaan bagi Jokowers dan Ahokers. Mereka tengah menikmati ketololan Anies dan Sandi dalam mengelola Jakarta. Mereka berbangga karena keduanya tidak becus mengatur Jakarta. Apalagi memimpin. Tidak ada kualitas di antara keduanya.

Anies tergambar sebagai orang ngawur. Sandi tampak konyol dengan lipstick atau lips gloss. Semua menjadi perhatian. Menjadi bahan guyonan. Menjadi sasaran kritik. Setiap hari waktu dihabiskan di dunia maya. Medsos menjadi magnet. Jutaan jam dihabiskan untuk menghibur diri – masturbasi untuk membahagiakan diri.

Apapun yang dilakukan oleh Anies dan Sandi menjadi sasaran pembanding kepada Jokowi, kepada Ahok, kepada Djarot. Bahwa Anies dan Sandi tampak tolol, kelihatan bahlul. Muncul dalam wujud konyol. Tindakan tanpa rencana.

Sejak awal pencalonan dua manusia pion itu, ketika Jusuf Kalla dan istrinya, Mufidah mendukung Anies, sejak saat itu politik berubah. Bukan tentang Jusuf Kalla-nya. Bukan. Namun, tentang gerombolan dan gerbong di belakangnya.

Lalu di medsos ramai. Mereka mendukung Anies. HMI – meskipun terpecah. HTI meskipun bersekutu aneh dengan PKS. FPI menyatu dengan Om Tommy. Gerindra mendukung Rizieq. Pengusaha terpecah. Koruptor dan mafia segala lini saling bersekutu. Bandar narkoba bersatu dengan teroris. Istana pun hendak dibom oleh kelompok teroris Bekasi.

SBY dengan lihai memainkan dua atau tiga kakinya. Penyebabnya adalah kekuatan SBY di lembaga negara dan di tataran kekuasaan kroni duit. Duitnya banyak. Reza Chalid bermain terus sampai Jokowi terjungkal.

Faksi cingkrang di KPK pun masih kuat. Pasca menjugkalkan Setya Novanto, KPK bergerak. Bukan kasus Century yang digencarkan. Bukan menyasar ke Boediono dan SBY. Bukan SBY dan kroninya. Bukan. Namun, BLBI yang digorok. Syafruddin Tumenggung yang jadi pesakitan. Arahnya jelas. Menghantam PDIP.

Kini Ganjar Pranowo menjadi tahanan dan bom waktu bagi PDIP. Buah simalakama. KPK pun dengan cerdas seolah hendak mengarah ke Gamawan Fauzi – lalu mengulik ke SBY. Namun ini tidak akan terjadi. Pertahanan dan kerapian bisnis SBY tak kalah dengan eyang saya Presiden Soeharto. Aman. Tak tersentuh. Kasus Century, Hambalang dan sebutan Ibas menerima uang hilang ditelan Bumi.

Muhammad Nazaruddin dan bahkan Anas Urbaningrum pun gagal membuka lembaran buku, tidak ada satu pun lembaran buku yang berhasil dibuka oleh si dungu mantan Ketum HMI Anas. Bahkan dia gagal menggantung diri di Monas. Idiot. Kenapa? Dua faksi KPK masih dikuasai oleh Bambang kaki tangan SBY. Mau apa?

Jadi aliansi di belakang antara SBY dan Jusuf Kalla mendukung Anies memaksa Jokowi dan tim-nya menengok SBY. SBY di 2018 dan 2019 akan menjadi kartu as baik bagi Jokowi maupun Prabowo. Itulah sebabnya, setelah PDIP, Golkar, Hanura, NasDem jelas mendukung Jokowi, maka Demokrat menjadi penentu. PPP dan PKB akan bermain cantik untuk dimainkan bersama Demokrat.

Nah, semua itu terjadi karena permainan yang menggerakkan Jusuf Kalla dan SBY – dengan pentolan strategisnya AH2. Langkah cerdas yang dilakukan oleh AH2 ini selain memengaruhi SBY dan Jusuf Kalla, mampu memantik gerakan politik gerbong Jokowi. Salah satu bentuk kecerdasan AH dua adalah mengatur perilaku Anies dan Sandi.

Sejak dia ngomong ‘pribumi’ itu wujud Anies sebagai pion proxy. Budak politik. Anies dan Sandi pun dibuat menjadi lelucon. Konsentrasi netizen dan Jokowers dan Ahokers terpusat ke keduanya. Padahal kedua orang ini hanya kroco pilek tak bermanfaat bagi AH2. Tujuan besarnya. Mereka ini hanya kacung, budak belian, kaki tangan proxy besar. Prabowo pun tak menganggap keberadaan Anies.

Bahwa Anies dan Sandi tidak penting bagi Prabowo, ini dibuktikan lagi dengan konsentrasi Fadli Zon dan Fahri Hamzah mengatur lagi gerakan. Hantam dan serang Jokowi. Maka sejak beberapa hari ini semua media yang dikendalikan mesin uangnya terus mewartakan Anies, Sandi. (Ini untuk mengecoh Jokowers dan Ahokers agar terus bermasturbasi menghabiskan waktu memuasi diri dengan mencaci.)

Dan, di sisi lain Fadli Zon dan Fahri Hamzah terus mengecoh di permukaan menyerang Jokowi dengan sangat ‘tolol’ di mata Jokowers dan Ahokers. Tujuan menyerang, yakni 1) memertahankan status quo dukungan, dan 2) mengecoh Jokowers dan Ahokers tentang gerakan di grass roots.

Mereka pun merajalela sejak di WAG, Tele, Fanspage, FB – baik yang tertutup dan terbuka. Lalu mereka wujudkan dari WA ke aktivitas nyata di lapangan seperti penyebaran Al Kaffah 7 juta eksemplar ke masjid2. Juga pembentukan saksi TPS bayangan Pilkada 2018. Wah hahaha.

Gerakan pendukung Jokowi banyak dijegal oleh penyusup dari PKS dan HTI serta Wahabi. Kecerdasan mereka mengecoh dengan mengalihkan dukungan gerakan Jokowi ke sesuatu yang tak bermanfaat. Misalnya memerangi hoax. Ini pekerjaan bodoh sia-sia memerangi hoax. Hoax tidak bisa diperangi dengan kampanye. Malah menghabiskan waktu doang. Ini khas hura-hura tidak jelas hasilnya.

Malah sosialisasi sering ditunggangi oleh pimpinan anti hoax untuk menyusupkan paham radikal NII, khilafah dan bahkan HTI dan Wahabi. Buat apa mau memerangi Hoax malah mengundang orang ‘bekas’ NII, kalau bukan sosialisasi terselubung. Kenapa bukan mengaku sendiri sebagai bekas PKS atau PK atau Wahabi? Modar. Padahal jelas hoax tinggal ditindak dan dilaporkan Polri selesai. Kenakan UU ITE. Selesai.

Dan gambaran tentang ketololan Anies Sandi masih membayangi. Di benak Jokowers dan Ahokers, mereka bodoh. Seolah mereka tolol. Namun, itu juga tidak mengapa. Salah satu perjuangan masturbasi kita sebagai pendukung Jokowi dan Djarot dan Ahok. Itu penting memertahankan iman di dalam.

So, seharusnya ada kecerdasan lain melihat mereka bukan yang kita lihat. Di belakang mereka ada JK, SBY, Prabowo, dengan kaki tangan kayak manusia apkiran pilek buronan Rizieq FPI, HTI, PKS, Gerindra dan bahkan Om Tommy pun larut di dalamnya. Mereka bergerak nyata di lapangan. Sementara Ahokers, Jokowers, Djaroders, bermasturbasi di media sosial soal Anies dan Sandi. Di ruangan bercermin penuh muka kita sendiri. Didengar sendiri. Demikian the Operators. Salam bahagia ala saya.