Pemerintahan Trump Mulai Mengambil Langkah Yang Berbahaya

Pemerintahan Trump Mulai Mengambil Langkah Yang Berbahaya
Pemerintahan Trump Mulai Mengambil Langkah Yang Berbahaya
Pemerintahan Trump Mulai Mengambil Langkah Yang Berbahaya

Kabar Trending – Well, ternyata Trump nampaknya mulai mengikuti jejak Bush dan Obama untuk urusan perang yang tak berkesudahan.

Penulis masih ingat ketika Trump berkampanye dia menjanjikan bahwa Amerika tidak akan lagi ikut campur tangan untuk urusan politik luar negeri terlalu dalam. Dengan kata lain Trump tidak ingin militer Amerika terlalu mendominasi kekuatan dunia hingga akhirnya kondisi ekonomi Amerika lemah akibat terlalu banyak pengeluaran militer. Jujur, cuma kebijakan ini menurut penulis yang sangat rasional dari Trump dan memang ini sangat berpengaruh ke seantero dunia. Bayangkan Amerika memiliki ratusan pangkalan militer yang tersebar di SELURUH dunia. Tentu peran Amerika sebagai “polisi” dunia seharusnya dipertanyakan, karena akhirnya banyak merugikan seperti yang kita lihat pada kasus perang Afghanistan dan Iraq yang akhirnya kini menjadi sarang simpatisan gerakan radikal ISIS.

Tapi belakangan Trump seperti kehilangan pegangan, baru selama sekitar 3 bulan menjabat, tingkat popularitas Trump sudah rendah sekali, akibat kebijakan kontroversialnya dan ditambah dengan perlawanan partisan dari media arus utama (CNN, MSNBC, dll) juga perlawanan dari Partai Demokrat yang nyaris membuat semua program Trump tidak berjalan. Bahkan dari internal partai Republikan sendiri Trump menghadapi lawan yang berat yaitu John McCain (salah satu pencetus perang Iraq) yang menganggap Trump tidak kompeten sebagai presiden. Dan, akhirnya Trump pun sekarang tampak jatuh ke dalam kubangan (swamp) yang hendak Trump sendiri bersihkan (dengan slogan terkenalnya, Drain The Swamp)

Konflik Dunia di Ujung Tanduk

Perang, perang dan perang…..ini adalah hal yang harus diwaspadai dari kebijakan Trump terbaru. Beberapa waktu lalu Trump melakukan kebijakan kontroversial dengan melarang imigrasi dari beberapa negara Timur Tengah. Penulis pernah menulis tentang hal itu di sini:

Muslim Ban, Donald Trump dan Kemunafikan Amerika.

Penulis sebetulnya berharap Trump berperan di sini, minimal ketika dia mengadakan larangan imigrasi ini, pemerintahan Amerika juga mengurangi tindak-tanduknya dalam mendestabilisasi suasana politik Timur Tengah dan beberapa kawasan dunia yang berakibat pada krisis politik. Tapi ternyata tidak sama sekali…..

Akibat desakan dari para media dan politisi “bermoral” di Washington akhirnya pemerintahan Trump “terpaksa” menunda larangan imigrasi itu. Namun di saat yang bersamaan para politisi “bermoral” dari kedua belah partai (Demokrat dan Republikan) yang pro-intervensi dan didukung dengan intelijen serta pemerintahan Trump, TETAP melaksanakan serangan Drone ala Obama ke negara Yaman dan Suriah. Terakhir penulis membaca serangan Drone di Yaman “berhasil” menewaskan puluhan warga sipil yang sedang berpesta, dan di Iraq serangan udara terakhir “berhasil” membunuh ratusan warga sipil dan dikabarkan sebuah rumah sakit…

Suriah

Terbaru adalah mengenai masalah Suriah. Duri dalam daging sejak jaman Obama ini sangat berpotensi menjadi perang yang akan membakar SELURUH daerah Timur Tengah. Secara singkat kasusnya seperti ini:

Pemerintahan diktator Assad yang hendak dijatuhkan oleh “kekuatan” rakyat efek dari Arab Spring pada awalnya berhasil memukul mundur pasukan pemberontak namun dengan kekerasan. Melihat hal ini, kekuatan pemberontak tadi akhirnya dibantu oleh CIA dan intelijen barat lainnya dalam bidang militer dan pasokan senjata (tapi tidak dengan bantuan langsung pasukan militer utama). Akibat hal ini, Assad kewalahan dan meminta bantuan Rusia sebagai sekutu terdekat mereka.

Rusia pun langsung hadir dengan mengirimkan militer utama mereka ke Suriah. Kremlin sendiri melihat jika Suriah jatuh maka pemberontak (termasuk ISIS) yang berkuasa akan berusaha untuk menyebarkan paham radikal mereka ke seluruh penjuru Timur Tengah dan juga kawasan Eropa. Selain itu jalur pipa gas Rusia di Suriah juga akan sangat terganggu dengan kehadiran pemberontak yang dibeking CIA ini. Dan disinilah titik konflik penting terjadi. Eropa dan Amerika yang merasa punya superioritas moral melihat Assad adalah diktator kejam dan keji, dan Barat akhirnya malah menggunakan tentara radikal (termasuk ISIS) untuk menjatuhkan Assad. Hal ini sama seperti ketika kasus Perang Soviet-Afganistan di 1980an di mana Amerika menggunakan Taliban untuk menghancurkan Soviet.

Dan kini akibat insiden terakhir senjata kimia yang diduga “digunakan” oleh Assad, tiba-tiba senat Amerika (Partai Republik dan Demokrat) dan Pemerintahan Trump yang sebelumnya tidak akur mendadak sepaham. Mereka mengecam tindakan yang sebetulnya harus diselidiki lebih dalam lagi ini. Dan mereka juga MULAI MEMPERTIMBANGKAN untuk mengirimkan opsi bantuan pasukan militer untuk “mengamankan” Suriah atau dengan kata lain mereka hendak menghancurkan Assad secara langsung dengan perang terbuka. Media massa Amerika pun yang dari awal sudah menabuh genderang anti Assad dan juga anti Russia melalui propaganda nonstop ke masyarakat Amerika, melihat ini bukan sebagai hak berbahaya namun malah hal yang patriotik dan harus di bela.

Menurut analisis penulis, Suriah akan menjadi Iraq kedua, dengan dituduh menggunakan senjata kimia, Trump yang butuh pengalihan isu untuk kembali menaikkan popularitasnya akhirnya akan mengikuti jejak Bush dengan mengirimkan pasukan ke Suriah. Bedanya jika dulu Perang Iraq, Amerika dan sekutu hanya akan menghadapi Pasukan Iraq semata, kini Amerika dan sekutunya (jika ikutan) akan menghadapi Pasukan Suriah dan juga Rusia. Dan bila ini kejadian, maka bukan tidak mungkin perang Nuklir bisa terjadi.

Hingga akhirnya manusia memenuhi nubuat Akhir Zaman dengan menjadi ‘pencipta’ kiamat bagi spesiesnya sendiri