Perjalanan Ahok di Indonesia

Perjalanan Ahok di Indonesia
Perjalanan Ahok di Indonesia
Perjalanan Ahok di Indonesia

Kabar Trending – Siapa yang tidak tahu Ahok? Mungkin hampir seluruh rakyat Indonesia mengetahui nama Ahok, apalagi dengan ramainya nama Ahok di media beberapa bulan terakhir ini. Bahkan, ada sebagian orang yang membandingkan dia dengan Tuhan, wow! Sehebat itukah Ahok? Hmm, mungkin tidak, karena di episode Mata Najwa: Perisai Anti Korupsi, Ahok pernah berkata bahwa penghargaan yang dia terima saat itu, yaitu Bung Hatta Anti Corruption Award, sebenarnya tidak perlu, karena dia hanya menjalankan apa yang seharusnya dijalankan oleh pejabat, namun karena banyak oknum pejabat yang berlaku tidak baik, maka penghargaan tersebut menjadi sangat berarti. Jadi, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Ahok itu biasa-biasa saja. Lalu, bagaimana bisa seorang Ahok bisa menjadi se-fenomenal ini?

Saya sendiri baru mengenal Ahok setelah menonton acara Kick Andy: Mereka Bilang Saya China. Dari semua narasumber yang diundang, Ahok adalah narasumber yang paling menarik, baik dari cerita maupun karakternya. Dari sana saya baru mengetahui bahwa Ahok adalah mantan Bupati dan saat itu adalah anggota DPR RI. Saat itu saya berpikir, bahwa Ahok adalah orang yang cukup menarik, karena dia berani jujur dan lurus, tapi mungkin itu hanya bertahan sementara, karena sudah banyak mantan pejabat yang sebelumnya lurus, namun akhirnya ‘bengkok’ juga. Tapi, mungkin pada titik ini, rakyat Indonesia mulai mengenal Ahok, seperti saya pada saat itu.

Nama Ahok menjadi lebih terkenal lagi, setelah dipasangkan dengan Jokowi sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, Jokowi dan Ahok saat ini benar-benar saling melengkapi, sehingga terasa pasangan yang paling sempurna dibandingkan dengan pasangan lainnya. Pada saat itu, sentimen suku, agama, ras, dan golongan pun sudah digaungkan demi menjatuhkan popularitas Jokowi-Ahok, namun keduanya yang memiliki rekam jejak sebagai pemimpin di masing-masing asal daerahnya ternyata mampu membuat para pemegang saham DKI Jakarta (warga DKI Jakarta), mempercayakan suaranya kepada mereka berdua, dan akhirnya terbukti dengan terpilihnya Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Ahok sebagai wakilnya.

Ahok semakin menjadi sorotan, ketika beberapa kali ‘kepergok’ marah-marah di YouTube ketika melakukan rapat. Serangan demi serangan dilancarkan kepada dirinya, namun tentu saja tujuannya adalah menyerang gubernur saat itu, Jokowi. Tetapi kekompakan mereka berdua mampu menangkis semua serangan tersebut, malahan, banyak rakyat Indonesia yang berharap bahwa Jokowi dicalonkan menjadi presiden. Tentu saja ini adalah harapan yang hampir tidak mungkin terjadi, karena berdasarkan apa yang sudah terjadi di Indonesia, presiden selalu seorang ketua partai, sedangkan Jokowi, ketua partai bukan, bahkan pada Pilkada sebelumnya, keluar uang pun sangat sedikit, mana bisa jadi presiden.
Namun harapan itu dijawab oleh PDI-P dengan mencalonkan Jokowi menjadi presiden, sontak tindakan ini mengundang berbagai macam reaksi, dari bahagia, harapan, marah, kaget, dll. Namun dalam berbagai survey, nama Jokowi selalu menjadi yang teratas untuk menjadi presiden. Survey ini kemudian membuat nama Ahok kembali mencuat, karena bila Jokowi jadi presiden, maka Ahok sudah pasti jadi gubernur. Untuk sebagian pihak, Ahok yang notabene seorang keturunan dan non-Muslim, adalah sebuah ‘aib’ bila menjadi gubernur. Bahkan salah satu public figure mendadak mencalonkan diri menjadi presiden, bahkan dalam wawancaranya di Mata Najwa: Mendadak Capres, secara terang-terangan dia berkata bahwa dirinya mencalonkan menjadi presiden karena adanya desakan dari beberapa pihak yang mengatakan bahwa ada sebuah golongan yang mulai memasuki pemerintahan dan ini meresahkan, maka dirinya harus menjadi presiden untuk membenahi ini. Memang, dia tidak menyebutkan secara nyata, siapa atau golongan apa itu, tapi saya rasa Anda semua pasti sudah mengerti maksudnya. Kalau saya sendiri merasa itu adalah Ahok, karena warga keturunan sangat jarang sekali menduduki kursi pemerintahan. Dan, pada akhirnya Jokowi pun menjadi presiden, dan Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta.

Nama Ahok semakin dikenal seiring dengan jabatan gubernur yang diembannya. Berbagai kebijakan dan pernyataan dirinya hampir selalu menyedot perhatian media. Sebut saja beberapa kebijakan seperti melarang penyelembihan hewan kurban di sembarang tempat, pemecatan PNS berkinerja kurang baik, dll. Semua itu mengundang pro dan kontra dari warga Jakarta, namun sifatnya masih sebatas komentar-komentar, belum banyak dukungan ataupun serangan langsung secara besar dan nyata. Hingga akhirnya keributan pun terjadi antara Ahok dengan DPRD mengenai USB yang bisa berfungsi sebagai UPS bernilai milyaran rupiah. Wow! Nilai uang yang tidak kecil. Dari titik ini, dukungan langsung dan nyata kepada Ahok mulai bermunculan, namun, selalu ada pro dan kontra. Dukungan yang besar juga mendatangkan serangan besar, serangan pun mulai bermunculan untuk menjatuhkan Ahok, sebut saja kasus Sumber Waras, reklamasi, hingga penistaan agama. Dan tentu saja imbasnya nama Ahok semakin dikenal oleh masyarakat., baik itu dikenal secara positif atau pun negatif. Semua proses itulah yang menjadikan nama Ahok sebesar sekarang.

Apa yang sudah dilakukan Ahok selama ini tentu mengundang berbagai pandangan, ada yang memandang positif maupun negatif. Ada yang menanggap kebijakannya pro-rakyat, ada pula yang menganggap dirinya memihak pengusaha. Namun, seperti yang pernah diungkapkan oleh Ahok, bahwa sebelum ada bunyi empat paku di atas peti mati seseorang, maka kita belum bisa menilai orang tersebut. Artinya, Ahok sadar betul bahwa apapun yang dilakukannya saat ini akan selalu mengundang pro dan kontra hingga akhir hayatnya, dan baru lah pada saat itu, kita, rakyat Indonesia bisa menilai, apakah yang dilakukan oleh Ahok itu baik atau buruk.