Perkataan Tercyduk Yang Sering di Pakai Dalam Peristiwa Ngetrend

Perkataan Tercyduk Yang Sering di Pakai Dalam Peristiwa Ngetrend

Kabar Informasi – tercyduk, dan bersembunyi di balik terali besi

Satu kata yang khas seringkali mewakili satu peristiwa, fenomena, atau sosok tertentu. Kata gestapu (gerakan September tiga puluh), petrus (penembakan misterius), semangkin (pelafalan Presiden Soeharto terhadap kata ‘semakin’), malari (malapetaka lima belas Januari -tahun 1974-), bromocorah, blusukan, tsunami, hoax, melenial, dan banyak lagi.

Kata-kata kekinian yang sering dilontarkan –berawal dari bahasa gaul remaja- diantaranya kepo (serba ingin tahu, singkatan kata Inggris ‘knowing every particular object’), baper (bawa perasaan), woles (slow), rempong (ribet, rese), peres (palsu/bohong), dst. Untuk lebih gengsi ditambahi dengan penggunaan singkatan dalam Bahasa Inggris: OMG (Oh My God), OTW (on the way), CYA (See you again), BTW (By The Way), FYI (for your information), dan lain-lain.

Terkait dengan penanganan pelaku ujaran kebencian di media sosial, kini makin ngetren penggunaan kata ‘tercyduk’. Mulai dari tweet, status, komentar, caption, bahkan judul berita dihiasi kata itu.

Tahun 1965-an ada kata ‘diciduk’ (diambil dengan gayung seperti air/cairan, ditangkap), untuk pengurus dan pengikut (pun yang sekadar diduga/dituduh/difitnah sebagai pengikut) partai komunis (PKI). Puluhan tahun lalu di Yogya dan sekitarnya ada istilah ‘digaruk’ (bukan dalam pengertian gatal lalu digaruk, namun ditangkap bersamaan/beramai-ramai). Teman-teman dari Sumatera terbiasa menggunakan kata ‘dicokok’. Kata-kata diciduk, digaruk, dan dicokok memiliki pengertian yang kurang-lebih yang sama.

Sejak lama para jurnalis membuat berbagai varian kata: diringkus, dijemput, diamankan, dibekuk, dimassa, digerebek, dikandangin, dan dicomot. Untuk para kriminal kambuhan/residivis biasanya mendapatkan tambahan istilah: dihadiahi timah panas, dilumpuhkan, didor, dan disukabumikan.

Akhir-akhir ini muncul kata yang ‘ngetrend’ (menjadi trending topic): ‘tercyduk’ (perhatikan ejaannya, huruf i diganti y konon kesengajaan yang berarti ‘typo’ alias salah tulis/ketik). Artinya tertangkap atau ditangkap. Ada pula yang mengartikan sebagai ‘tertangkap basah’, ketahuan, terkuak, kepergok.

Kata itu terasa bernuansa (dalam logat Betawi): kapok, syukurin, rasain loe, kena batunye, dan gue bilang juga ape kepada para korban karena ulah dan kesalahan mereka sendiri. Kata itu sepertinya khusus ditujukan kepada para pembenci, serta untuk orang-orang yang gemar menyalahgunakan kebebasan dalam ber-media social dengan menyebar kebencian, memfitnah, menghujat, menghina, memutar-balikkan fakta, menyebarkan berita bohong, dan berbagai hal lain serupa itu. ‘Tercyduk’ juga dikenakan untuk orang yang memesan, memasok dana, membuat konten, serta yang menyebarluaskannya.

Namun KPK agaknya punya istilah tersendiri yang bernuansa hukum: OTT, atau operasi tangkap tangan.

Menjamurnya jurusan komputer dan informatika di SMK dan perguruan tinggi langsung atau tidak langsung mempengaruhi keterampilan banyak remaja untuk membuat gambar-tulisan dan ujaran (audio-video) yang baik-positif, maupun yang buruk, busuk bahkan merusak.

Dengan menyembunyikan identitas nama maupun foto diri, banyak remaja (dan orang tua juga) yang jadi beringas. Bahkan banyak pula yang memalsukan identitas diri. Orang dan pihak lain jadi sasarannya, dengan berbagai alasan. Dengan memalsukan identitas diri mereka merasa aman-aman saja. Padahal ternyata ilmu mereka masih sangat terbatas. Karena dengan gampang mereka tercyduk. TER-CY-DUK.

Bila mengikuti kebiasaan Abdel di Stand Up Comedy Academi, maka tiga suka kata itu bila dipanjangkan kira-kira begini:

-TERnyata pelakunya remaja ingusan dan ibu-ibu yang nggak jelas pula motivasinya,

-CYe-cye . . . . . setelah sempat nge-top karena postingannya diviralkan orang, kemudian cepat-cepat menutup akun dan melarikan diri,

-DUKa pula akhirnya harus dialami membayangkan hotel prodeo nan sepi-lembab-sempit dan menyeramkan bakal segera dihuni untuk entah berapa lama.

Masih banyak orang yang akan segera tercyduk. Ada banyak nama sudah merasakan dahsyatnya kata tercidyk itu. Tentu banyak nama lain dalam daftar antrian. Ada ungkapan, jadilah popular dengan segenap kebencian dan kebusukan, setelah itu berubah menjadi monster sebelum tercyduk. Benci kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Juga bagi pecundang dan kriminal yang bersembunyi di balik gemerlap kemuliaan dan kemewahan.

Media sosial telah mengubah banyak orang menjadi orang lain yang sulit dikenali. Kecuali setelah tercyduk: tubuh lesu, wajah murung, pandangan sayu, mulut terkunci, dan air mata berderai-derai. Entah itu terlahir dari perasaan terluka-teraniaya-terpuruk yang begitu parah sedemikian rupa; atau sekadar kepura-puraan akting yang melengkapi segenap jiwa pecundang yang kalah karena terjebak pada perilaku salah-kaprah. Wah, entah. . . .!

Maka patut bergembira-rialah para ahli bahasa karena hari-hari ini ada tambahan kosa kata baru yang bernuansa keprihatinan: tercyduk.

Pembelajaran dari kata tercyduk, yaitu jangan pernah menjadi korbannya. Jangan mau tercyduk. Itu bukan berarti harus belajar untuk lebih rapi menyembunyikan bangkai, lebih piawai mengatur kong-kali-kong, lebih gesit berkelit, dan lebih fasih bersilat-lidah.

Nah. Satu kata saja salah ucap, bisa fatal akibatnya. Oleh karena itu jangan sengaja berpura-pura salah ucap, salah ketik, salah baca, salah kirim, salah posting, salah. . . . . ! Karena mungkin Polisi sudah diambang pintu rumahmu. Dengan pistol ditodongkan, dengan teriakan keras dan mengagetkan: ‘tercyduk loe. . . .!’ Maka jangan lakukan hal-hal yang menyebabkan tercyduk.

Kabar Trending – Salam tercyduk, dikit-dikit tercyduk, cuma iseng tercyduk, ganteng-ganteng tercyduk, banyak gaya tercyduk, sebar kebencian tercyduk, ingin popular tercyduk, mendadak umroh takut tercyduk, mendadak sakit menghindari tercyduk, dan seterusnya. Dalam agama, kata tercyduk mungkin seperti kata mati, dzolim, fitnah, munafik, siksa kubur, dan neraka. Ada pembelajaran di sana, peringatan, dan ada nasihat untuk menjauhi atau bersiap-siaga menghadapinya.

Nah, teruslah beraktivitas menggunakan media sosial. Tapi ingat: berlaku ngetrend itu keren, tercyduk jangan!