Sentuhan ISIS dalam Politik di Indonesia

Kabar Trending, Berita Politik, Berita Politik Indonesia, Berita Hangat Indonesia, Berita Seputar Politik, Politik Indonesia, Berita Politik Terbaru, Berita Politik Terhangat

Kabar Trending, Berita Politik, Berita Politik Indonesia, Berita Hangat Indonesia, Berita Seputar Politik, Politik Indonesia, Berita Politik Terbaru, Berita Politik Terhangat

Pembusukan Terhadap Islam Juga Menjadi Tujuan Dari ISIS

Berita Politik Terhangat – Agama Islam adalah sebuah agama yang sangat cinta dengan kedamaian dan juga agama yang mengajarkan saling mengasihi. Namun sayangnya, agama yang nan indah ini telah dibusukan oleh orang – orang yang sangat licik. Orang – orang ini terus masuk ke dalam perkumpulan umat Islam dan membentuk opini – opini yang justru akan merusak persatuan yang terjadi. Hasilnya ? Islam akan terlihat buruk di mata dunia.

Tepat beberapa tahun lalu, kita sebagai umat muslim dihadapkan dengan tafsiran menyesatkan atas arti jihad. Jihad yang  memiliki arti berjuang ini diidentikan dengan aksi bom bunuh diri, teroris, dan juga pembunuhan. Jiah sendiri merupakan sebuah kata suci dan sangat sakral bagi umat Islam. Namun sekarang ini berubah menjadi sebuah kata yang sangat buruk sekali.

Kaum yang nonmuslim sudah jelas akan memiliki trauma yang sangat dalam akibat penyerangan atau pun bom bunuh diri yang dilakukan dengan mengatasnamakan kata jihad ini. Sulit pasti menerima ini semua karena memang pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan berjuang dengan cara memusnahkan atau melukai orang lain.

Jihad memiliki arti berjuang di jalan Allah. Sebagai contohnya adalah mencari nafkah, belajar, atau semua tindakan positif yang membutuhkan sebuah perjuangan. Namun sekarang ini jihad diartikan sebagai bom bunuh diri dan pembunuhan. Hingga saat ini pun, semua petinggi – petinggi di seluruh dunia tidak akan berani mengatakan kata jihad ini walaupun untuk kegiatan yang positif. Mengapa ? Karena di mata dunia, jihad sudah diartikan sebagai sebuah kasus teror yang menyesatkan.

Setelah kasus jihad, kini muncul kalimat ‘lailaha illallah, Muhammad rasulullah’ pun menjadi sasaran empukk berikutnya. Kalimat ini menjadi salah satu pergerakan bagi sebuah komunitas atau perkumpulan dari orang – orang yang ingin menusuk Islam dari belakang. Ya, apalagi jika bukan ISIS yang memulai ini semua. Kaum ini mengatasnamakan agama untuk menyembelih anak kecil yang tidak bersalah. Meledakan bom bunuh diri untuk menyerang aparaqt keamanan dan juga masyarakat awam yang rata – rata juga beragama Islam. Inikah yang dinamakan Islam ?

Kalimat ini sekarang bahkan sudah jauh lebih sakral daripada kata jihad. Kalimat yang seharusnya menjadi kalimat syahadat ini kini sudah berubah menjadi kalimat yang ditakuti oleh masyarakat luas di dunia. Cara – cara yang digunakan oleh ISIS ini benar – benar sangat licik. Menggunakan istilah – istilah islami dan digunakan untuk tindakan teroris. Para penjahat ini berlindung di balik agama Islam. Apabila ada yang mau melawan, maka yang melawan tersebut dianggap sebagai seorang yang sesat yang melawan agama Islam. Karena hal ini, agama Islam menjadi salah satu agama yang sangat dibenci. Miris memang, tapi apa mau dikata. Tidak ada yang berani bertindak dan melawan.

Di Indonesia sendiri, secara tidak langsung kita sudah membentuk bagian dari ISIS yangmana menggunakan cara – cara licik seperti ini untuk kepentingan politik. Kita kilas balik ke belakang, dimana strategi propaganda dilancarkan oleh orang – orang dengan kepentingan politik seperti melakukan doa dan juha khotbah yang jelas – jelas menyerang lawan politiknya. Menggunakan cara seakan – akan sedang berdoa atau khotbah yang nyatanya itu menyerang lawannya dan tidak ada yang bisa membantah karena akan dianggap sebagai pembenci Islam. Ini sama saja seperti cara yang digunakan oleh ISIS hanya saja dengan kasus yang berbeda. Berani berkeritik ? Maka anda bukan Islam.

Berita Politik – Ulama – ulama yang seharusnya gelar untuk seseorang yang memang tahu betul tentang agama Islam ini sudah tidak ada artinya lagi. Terbukti dari seseorang yang sering mencaci maki orang, mengajak orang lain untuk membunuh, menggunakan kata – kata kasar dan berbau sara, kemudian dilabeli sebagai seorang ulama. Apakah seorang ulama mengajarkan kebencian ? Menghina Pancasila, melakukan fitnah, dan terakhir apakah ada ulama yang terjerat kasus pornografi ? Tapi apa mau dikata, tidak ada yang berani melawan. Apabila mengkritik atau melawan, berati orang tersebut sudah menistakan agama dan sudah menghina ulama.

Khotbah dan doa merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Namun tanpa anda sadari, cara – cara ini sudah mulai ternodai karena kepentingan politik. Orang – orang pun sekarang sudah banyak yang menghindari khotbah dan sudah meninggalkan doa karena dianggap hanya sebagai sebuah orasi politik. Di sebagian daerah, bahkan beberapa masjid sudah membuat jamaahnya terganggu saat sholat jumat, bahkan ada yang sampai tidak jadi sholat. Sempatkah anda berpikir jika orang yang selama ini disebut sebagai ulama merupakan salah satu utusan dari ISIS ? Inikah bentuk dari sebuah Islam ? Menurut saya tidak.

Ayo kita merenungkan diri sejenak. Wahai saudara – saudariku yang beragam Islam. Apakah yang diajarkan Nabi kepada kita ? Ingatlah, Islam merupakan agama yang sangat indah dan sangat damai. Saya juga sudah merasakan sendiri apa itu agama Islam sehingga saya paham betul apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Jangan sampai agama yang selama ini dianggap sebagai agama yang damai dirusak hanya karena kepentingan politik. Let’s think smarter. Bagi saya, agama Islam yang saya percayai sekarang adalah agama yang tidak memandang bulu dan tidak ada pengaruhnya dalam dunia politik. Agama Islam yang saya percayai mengajarkan saya untuk selalu menghormati agama lainnya dan menolong orang lain. Agana Islam yang saya yakini mengajarkan saya untuk berbuah jihad ( dalam arti mencari nafkah secara halal dan bukan melakukan aksi bunuh diri ). Agama Islam yang saya yakini mengajarkan saya untuk selalu membantu orang lain yang berada dalam kesusahan dan bukan menghina.